Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
PEMBANGUNANÂ ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini sedang terjebak dalam sebuah labirin paradoks yang mendalam. Di satu sisi, panggung politik dan publik kerap dihiasi oleh narasi tentang kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan potensi pariwisata “primadona” yang mendunia.

Namun, di sisi lain, data makroekonomi dan indikator kesejahteraan sosial menunjukkan realitas yang kontradiktif: kemiskinan yang mengakar, efisiensi modal yang rendah, serta ancaman stunting yang menghantui masa depan generasi mudanya. Jika kita bersedia membedah realitas ini dengan kacamata kritis dan berbasis data, kita akan menemukan bahwa kegagalan pembangunan di NTT bukanlah sekadar masalah kurangnya dana, melainkan kegagalan sistemik dalam menerjemahkan modal menjadi kesejahteraan riil.
Salah satu indikator teknis yang paling telanjang dalam menunjukkan ketidakefisienan ini adalah angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Dalam berbagai kajian ekonomi pembangunan di NTT, ditemukan bahwa angka ICOR daerah cenderung tinggi, mengikuti tren nasional Indonesia yang berada pada kisaran 6 hingga 6,8.
Angka yang tinggi ini mengirimkan pesan yang mengkhawatirkan: NTT membutuhkan biaya investasi yang sangat mahal hanya untuk menghasilkan sedikit pertumbuhan ekonomi. Investasi yang masuk baik melalui APBD maupun skema swasta sering kali menguap dalam proyek-proyek yang tidak produktif atau terjebak dalam perencanaan yang terlalu teknokratis. Perencanaan pembangunan di NTT cenderung bersifat top-down, yang sering kali gagal menangkap kebutuhan sosiologis dan konteks tata kelola lokal. Akibatnya, banyak modal fisik yang dikucurkan justru menjadi aset mangkrak atau tidak mampu memberikan dampak pengganda bagi ekonomi kerakyatan di tingkat tapak.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

