Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Sementara itu, Pembantu Rektor III Unkriswina Sumba, Elvis Umbu Katongan Retang, S.P., M.Agb., menyatakan bahwa tema yang diangkat merupakan bentuk respons kritis mahasiswa terhadap dinamika sosial di Pulau Sumba. Ia berharap kegiatan ini mampu membuka wawasan mahasiswa agar lebih peka terhadap isu kesetaraan gender yang berkaitan dengan kearifan lokal.
Diskusi berlangsung interaktif ketika moderator mengaitkan materi dengan realitas masyarakat Sumba yang masih kental dengan sistem patrilineal. Mahasiswa diajak untuk berpikir kritis mengenai peran pendidikan tinggi dalam membuka ruang bagi perempuan untuk berkembang tanpa harus meninggalkan identitas budaya.
Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan dalam sesi tanya jawab. Selain memperoleh wawasan baru, peserta juga mendapatkan sertifikat sebagai bentuk apresiasi.
Menariknya, panitia juga mengimbau seluruh peserta untuk membawa tumbler sebagai bagian dari kampanye kampus ramah lingkungan (green campus). Langkah ini menunjukkan komitmen Unkriswina Sumba dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama kegiatan berlangsung.
Melalui kuliah umum ini, Senat Mahasiswa Unkriswina Sumba menegaskan perannya sebagai wadah pengembangan intelektual dan ruang diskusi progresif yang mendorong perubahan sosial, khususnya dalam isu kesetaraan gender di wilayah pedesaan. (rnc)
