Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
SETIAP 21 April, bangsa Indonesia memperingati Raden Ajeng Kartini sebagai ikon kebangkitan perempuan, pendidikan, dan kesadaran sosial. Namun di balik seremoni nasional, pertanyaan mendasar tetap relevan: apakah gagasan Kartini sungguh telah hadir dalam realitas perempuan di daerah-daerah perifer seperti Nusa Tenggara Timur?
Bagi NTT, Hari Kartini tidak cukup dimaknai sebagai nostalgia sejarah. Ia harus dibaca sebagai momentum evaluasi sosial. Sebab di wilayah ini, isu perempuan tidak berdiri sendiri, tetapi terkait erat dengan kemiskinan, pendidikan, kesehatan ibu-anak, stunting, kekerasan berbasis gender, migrasi tenaga kerja, dan budaya patriarki yang masih kuat di sejumlah ruang sosial.
Kartini dahulu berbicara tentang “habis gelap terbitlah terang.” Di NTT, kalimat itu masih menjadi proyek pembangunan yang belum selesai.
Emansipasi Tidak Bisa Dipisahkan dari Struktur Sosial
Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa ketimpangan sering direproduksi melalui habitus, modal sosial, dan struktur budaya. Artinya, perempuan tidak tertinggal semata karena kurang kemampuan, tetapi karena sistem sosial sering tidak memberi ruang setara.
Perspektif ini sangat relevan untuk membaca NTT. Banyak perempuan NTT bekerja keras di kebun, pasar, rumah tangga, gereja, dan sektor informal, tetapi tidak selalu memperoleh akses yang sama terhadap pendidikan tinggi, kepemilikan aset, posisi strategis, maupun perlindungan hukum.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

