Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
1. peningkatan gizi ibu hamil,
2. pendidikan kesehatan reproduksi remaja putri,
3. sanitasi desa,
4. pendampingan keluarga muda,
5. penguatan ekonomi rumah tangga perempuan.

Tanpa itu, emansipasi hanya slogan.
Kekerasan terhadap Perempuan: Luka yang Tak Boleh Dinormalisasi
Pemerintah Provinsi NTT mencatat 556 anak dan perempuan menjadi korban kekerasan sepanjang 2025. Dari jumlah itu, 143 korban adalah perempuan dewasa dan 413 anak.
Angka ini kemungkinan hanya puncak gunung es. Banyak kasus tidak dilaporkan karena malu, takut, tekanan keluarga, atau akses hukum yang terbatas.
Filsuf Martha Nussbaum menekankan bahwa martabat manusia harus menjadi pusat kebijakan publik. Bila perempuan hidup dalam rasa takut, maka pembangunan belum beradab.
Hari Kartini harus menjadi seruan moral bahwa tidak ada budaya yang dapat dipakai untuk membenarkan kekerasan.
Perempuan NTT: Kartini yang Nyata
Di tengah berbagai keterbatasan, NTT memiliki ribuan Kartini nyata:
1. guru perempuan yang mengajar di pulau terpencil,
2. bidan desa yang melayani dengan risiko tinggi,
3. mama-mama pasar yang membiayai sekolah anak,
4. dosen dan peneliti perempuan yang membangun ilmu,
5. aktivis sosial yang mendampingi korban kekerasan,
6. mahasiswi yang berjuang menembus batas ekonomi.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

