Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika, menyoroti dampak serius kecerdasan buatan (AI) terhadap industri media, khususnya terkait aktivitas crawler dan bot yang dinilai semakin menekan bisnis dan distribusi konten.
Hal tersebut disampaikan Wahyu dalam talkshow bertajuk “Babak Belur Industri Media: Masihkah Jurnalisme Dibutuhkan?” pada Pesta Media AJI Jakarta 2026 yang digelar di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Minggu (12/4/2026).
Wahyu mengungkapkan, dalam setahun terakhir industri media menghadapi tekanan baru akibat aktivitas AI crawler yang menyedot konten dari situs publisher secara masif.
“Salah satu yang kami rasakan sebagai publisher adalah turunnya page views secara drastis. Hampir separuh page views media hilang sepanjang 2025. Di saat yang sama, kami melihat lonjakan pengguna non-manusia seperti crawler atau bot AI yang mengambil konten dari website,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini menciptakan fenomena double squeeze atau tekanan ganda terhadap industri media. Di satu sisi, jumlah pembaca manusia menurun, sementara di sisi lain beban operasional meningkat akibat aktivitas bot yang tetap mengakses server.
“Bot itu menyamar seperti pengunjung biasa. Setiap halaman yang terbuka tetap membebani server dan tentu ada biaya. Jadi biaya naik, tapi pendapatan justru turun,” jelasnya.
Ia menambahkan, tekanan terhadap industri media sebenarnya sudah berlangsung sejak era disrupsi digital. Namun, kehadiran AI semakin memperparah kondisi, terutama dengan perubahan pola konsumsi informasi sejak akhir 2024 hingga 2025.
Selain berdampak pada bisnis, maraknya penggunaan AI juga memicu banjir informasi yang sulit diverifikasi. Hal ini dinilai berpotensi menggerus konteks dan menurunkan kepercayaan publik terhadap informasi yang beredar.
Dalam situasi tersebut, Wahyu menegaskan bahwa peran jurnalis tetap sangat dibutuhkan untuk memastikan akurasi dan verifikasi informasi. “Di situ dibutuhkan personalitas, tokoh, dan jurnalis,” katanya.
Untuk menghadapi tantangan ini, AMSI mendorong media beralih ke model bisnis berbasis pembaca guna membangun hubungan langsung dengan audiens dan mengurangi ketergantungan pada platform digital.
Selain itu, Wahyu juga menekankan pentingnya regulasi yang mengatur penggunaan konten media oleh platform AI agar tidak terjadi pengambilan konten tanpa kompensasi.
Ke depan, ia memandang produk jurnalistik tidak hanya sebagai artikel, tetapi juga sebagai data bernilai yang dapat dilisensikan kepada platform AI. Dalam ekosistem informasi yang semakin kompleks, kepercayaan menjadi faktor utama yang harus dijaga.
“Trust bukan hanya soal reputasi, tetapi juga infrastruktur,” pungkasnya. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

