Jakarta, RakyatNTT.ID Banyak orang di dunia mengenal Iran dengan dua nama berbeda, yakni Persia dan Iran. Meski sering dianggap sebagai dua wilayah yang berbeda, sebenarnya kedua istilah tersebut merujuk pada negara yang sama, hanya berasal dari latar belakang penamaan yang berbeda secara historis.

Dalam sejarah dunia Barat, istilah Persia lebih dulu dikenal dan digunakan secara luas. Nama ini berasal dari kata Pars atau Persis, yaitu wilayah di selatan Iran yang pada masa kuno menjadi pusat kekuasaan bangsa Persia.

Bangsa Yunani kuno kemudian menggunakan istilah Persia untuk menyebut seluruh wilayah kekaisaran yang dipimpin oleh bangsa tersebut, terutama ketika mencatat konflik Perang Yunani–Persia sekitar 2.500 tahun lalu. Sejak saat itu, nama Persia menjadi populer di dunia Barat.

Asal-usul Bangsa Persia

Secara etnis dan sejarah, bangsa Persia merupakan bagian dari kelompok Indo-Iranian, cabang dari rumpun bangsa Indo-Eropa yang berasal dari kawasan Asia Tengah.

Para sejarawan memperkirakan kelompok ini bermigrasi ke dataran tinggi Iran sekitar 1000–700 sebelum Masehi, kemungkinan melalui wilayah Sogdiana dan Transoxiana. Migrasi tersebut merupakan bagian dari perpindahan populasi besar di kawasan Timur Dekat sekitar 1200–900 SM.

Dalam catatan peradaban kuno, bangsa ini dikenal dengan berbagai nama seperti Parsua, Parsu, atau Parsumash. Nama-nama tersebut kemudian berkembang menjadi Pars atau Persis, yang saat ini dikenal sebagai Provinsi Fars di Iran modern.

Sebagian kelompok Persia awal menetap di Pegunungan Zagros bersama bangsa Medes, sementara kelompok lain bergerak ke selatan dan mendirikan pusat kekuasaan di wilayah Persis. Kota Pasargadae menjadi pusat awal pemerintahan Persia sebelum kemudian dipindahkan ke Susa (Shush) saat kekaisaran berkembang.

Peradaban Persia juga mengadopsi unsur budaya dari peradaban Elam, salah satu peradaban tertua di Timur Tengah yang berkembang di wilayah Iran barat daya jauh sebelum munculnya Kekaisaran Persia.

Asal-usul Nama Iran

Berbeda dengan dunia Barat yang menggunakan istilah Persia, masyarakat setempat sejak lama menyebut wilayah mereka sebagai Iran.

Kata Iran berasal dari istilah Arya, yang berarti “orang yang mulia” atau “bangsa Arya”. Dalam perkembangan bahasa, istilah ini berubah menjadi Iran atau Iran-Shahr, yang berarti “tanah bangsa Arya.”

Penggunaan nama ini dapat ditelusuri sejak abad ke-3 Masehi, ketika Raja Dinasti Sassania Ardashir I menyebut dirinya sebagai penguasa dari “Eran dan An-Eran” dalam prasasti kerajaan.

Nama Iran juga muncul dalam berbagai karya sastra klasik Persia, termasuk epos terkenal Shahnameh.

Perubahan Nama Persia Menjadi Iran

Selama berabad-abad, dua nama ini digunakan secara berbeda. Penduduk lokal menggunakan nama Iran, sementara dunia Barat tetap menyebut wilayah tersebut sebagai Persia.

Perubahan resmi baru terjadi pada 21 Maret 1935, ketika Shah Reza Pahlavi meminta negara-negara lain menggunakan nama Iran dalam hubungan diplomatik dan komunikasi internasional.

Keputusan tersebut bertujuan untuk menegaskan identitas nasional Iran, sekaligus menghubungkan negara modern dengan warisan sejarah kuno Persia dalam proyek modernisasi pada masa pemerintahan Pahlavi.

Pada 1959, pemerintah Iran kemudian menyatakan bahwa kedua istilah, Persia dan Iran, boleh digunakan. Namun dalam praktik internasional hingga sekarang, nama Iran menjadi sebutan resmi yang paling umum.

Iran Bukan Negara Arab

Meskipun berada di kawasan Timur Tengah, Iran bukanlah negara Arab.

Mayoritas penduduk Iran berasal dari etnis Persia, meskipun negara ini juga dihuni oleh kelompok etnis lain seperti Azeri, Kurdi, Lur, Baluchi, dan Arab dalam jumlah yang lebih kecil.

Sebaliknya, bangsa Arab umumnya mendiami wilayah Semenanjung Arab, Afrika Utara, dan kawasan Levant, termasuk negara seperti Arab Saudi, Irak, Yordania, Mesir, dan Suriah.

Negara-negara tersebut memiliki identitas budaya yang kuat dengan bahasa Arab sebagai bahasa utama.

Bahasa Persia Berbeda dari Bahasa Arab

Salah satu perbedaan paling jelas antara Iran dan negara Arab adalah bahasa.

Bahasa resmi Iran adalah Persia atau Farsi, yang termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropa cabang Indo-Iranian. Bahasa ini memiliki struktur tata bahasa, kosakata, dan akar linguistik yang berbeda dari bahasa Arab.

Meski menggunakan aksara yang diadaptasi dari alfabet Arab, bahasa Farsi tetap berbeda secara linguistik dan tidak saling dipahami dengan bahasa Arab.

Sementara itu, bahasa Arab merupakan bagian dari rumpun bahasa Semit dan digunakan sebagai bahasa resmi di lebih dari 20 negara di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Perbedaan Sejarah Persia dan Arab

Perbedaan lain yang mendasar adalah sejarah peradaban.

Iran memiliki akar sejarah panjang dari peradaban Persia kuno, termasuk kekaisaran besar seperti Achaemenid, Parthia, dan Sassania. Kekaisaran Persia yang didirikan oleh Cyrus Agung pada 550 SM dikenal sebagai salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia.

Peradaban ini meninggalkan warisan besar dalam arsitektur, seni, sastra, ilmu pengetahuan, dan sistem pemerintahan.

Sebaliknya, sejarah bangsa Arab sangat berkaitan dengan munculnya Islam pada abad ke-7 Masehi, ketika Nabi Muhammad mempersatukan suku-suku Arab di Semenanjung Arab dan memulai ekspansi peradaban Arab-Islam ke berbagai wilayah.

Karena itu, meskipun Iran berada di kawasan Timur Tengah dan mayoritas penduduknya beragama Islam, identitas budaya dan sejarah negara tersebut tetap berakar pada peradaban Persia, bukan Arab. (*/CNBC/rnc)