Larantuka, RakyatNTT.ID – Di tengah keterbatasan infrastruktur yang seolah tak berujung, anak-anak di Dusun Woka, Desa Kiwangona, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT), terus melangkah mengejar masa depan.

Setiap hari, mereka harus berjalan kaki sejauh lima kilometer untuk sampai ke sekolah karena tidak adanya akses jalan yang layak menuju dusun mereka.

Kondisi ini telah dirasakan warga sejak puluhan tahun lalu. Namun hingga kini, belum ada perhatian serius dari pemerintah daerah untuk membuka keterisolasian wilayah tersebut.

Iklan

Setiap pagi, anak-anak Dusun Woka berangkat lebih awal dibandingkan siswa di wilayah lain. Medan yang terjal, panas terik, hingga hujan deras menjadi tantangan yang harus mereka hadapi demi bisa mengikuti pelajaran di sekolah.

Berangkat Sejak Pukul Lima Pagi

Serly, salah satu siswi di Dusun Woka, menuturkan bahwa ia bersama teman-temannya setiap hari berjalan kaki sejauh lima kilometer pergi dan pulang demi bisa bersekolah.

“Iya, kami setiap hari ke sekolah berjalan kaki seperti ini. Meskipun jauh, kami tetap semangat demi bisa belajar,” kata Serly, dikutip dari iNews.ID.

Ia mengungkapkan, mereka harus berangkat sejak pukul 05.00 WITA agar tidak terlambat tiba di sekolah.

“Kami jam lima pagi sudah berangkat dari rumah supaya tidak terlambat. Kami hanya berharap semoga ada perhatian dari pemerintah dengan membuka jalan agar kendaraan bisa masuk ke kampung kami,” ujarnya penuh harap.

Lebih dari Setengah Abad tanpa Pembangunan

Keluhan serupa disampaikan Petrus Doni Uher, salah satu orang tua siswa di Dusun Woka. Ia menyebutkan bahwa wilayah tempat tinggalnya belum pernah merasakan pembangunan selama lebih dari 55 tahun.

“Dusun kami ini seperti belum merasakan kemerdekaan. Air bersih tidak ada, jalan tidak ada, listrik juga tidak ada sejak kami lahir. Sudah 55 tahun. Sebenarnya apa kesalahan kami sampai seakan dilupakan oleh pemerintah,” ungkap Petrus dengan nada kecewa.

Menurutnya, Woka menjadi satu-satunya dusun di Kabupaten Flores Timur yang hingga kini belum memiliki akses jalan, air bersih, maupun penerangan listrik.

Keterbatasan tersebut membuat warga Dusun Woka merasa terpinggirkan dari pembangunan. Namun di balik kondisi itu, anak-anak tetap menunjukkan keteguhan hati untuk menempuh pendidikan.

Dengan langkah kecil di jalan setapak dan semangat besar untuk mengubah masa depan, mereka terus berjalan setiap hari menuju sekolah. Kisah anak-anak Dusun Woka menjadi potret nyata ketimpangan pembangunan, sekaligus pengingat bahwa akses pendidikan yang layak masih menjadi perjuangan bagi sebagian anak bangsa di pelosok negeri. (*/rnc)