GMKI Kupang menilai persoalan perbaikan jalan Amfoang bukan lagi sekadar isu teknis infrastruktur, melainkan persoalan moral dan tanggung jawab kepemimpinan.

“Jika setiap musim hujan titik yang sama kembali terputus, kita tidak bisa lagi berlindung di balik alasan cuaca ekstrem. Yang ekstrem adalah ketidakseriusan membenahi masalah yang sudah lama diketahui,” ujarnya.

Ia menegaskan, Amfoang tidak meminta kemewahan, melainkan jalan yang aman dan jembatan permanen yang kokoh, bukan solusi tambal sulam yang rapuh.

Desak Bupati, Gubernur hingga Presiden

GMKI Kupang mendesak Bupati Kupang menetapkan Amfoang sebagai prioritas strategis pembangunan daerah dengan langkah nyata, terukur, dan diawasi secara transparan.

Kepada Gubernur NTT, GMKI meminta intervensi kebijakan dan anggaran berbasis mitigasi bencana agar infrastruktur penghubung yang kerap terputus dapat ditangani secara jangka panjang.

Jika kemampuan fiskal daerah terbatas, Andraviani meminta agar pemerintah kabupaten dan provinsi menyampaikan langsung kepada Presiden RI untuk menghadirkan intervensi APBN melalui Kementerian PUPR.

“Jika perlu, jadikan Amfoang bagian dari program percepatan pembangunan wilayah rawan dan terisolasi. Negara tidak boleh hanya hadir di pusat pertumbuhan, tetapi juga di tepian yang paling rapuh,” tegasnya.

Soroti Prioritas Pembangunan

Dalam pernyataannya, GMKI Kupang juga menyinggung rencana pembangunan Patung Tuhan Yesus di Semau. Pihaknya menghormati simbol-simbol religius, namun menilai pemerintah perlu menentukan prioritas pembangunan secara moral dan kemanusiaan.