PERINGATAN Hari Ibu seharusnya tidak berhenti pada ungkapan simbolik dan seremonial. Ia adalah momen reflektif untuk melihat lebih dalam makna keibuan dalam kehidupan sosial, terutama dalam dunia pendidikan. Di ruang inilah kita menemukan sosok yang kerap bekerja dalam diam namun memberi dampak jangka panjang: perempuan yang sekaligus adalah ibu dan pendidik.

Sebagai perempuan, ia hidup dalam struktur sosial yang masih sarat dengan ekspektasi ganda. Di satu sisi dituntut profesional, berdaya saing, dan produktif; di sisi lain tetap diposisikan sebagai penanggung jawab utama urusan domestik dan emosional keluarga. Namun justru dalam ketegangan inilah lahir ketangguhan dan kedalaman reflektif yang membentuk karakter kepemimpinan perempuan.

Sebagai ibu, ia adalah pendidik pertama dan utama. Sebelum anak mengenal ruang kelas formal, ibu telah memperkenalkan nilai, makna, dan orientasi hidup. Paulo Freire (1970) menekankan bahwa pendidikan sejati tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi membangun kesadaran manusiawi. Dalam praktik keibuan, pendidikan semacam ini berlangsung secara alami melalui keteladanan, pengorbanan, dan kasih yang konsisten.

Iklan

Ketika identitas ibu menyatu dengan profesi pendidik, lahirlah sebuah praksis pendidikan yang utuh. Pendidik perempuan, khususnya yang juga seorang ibu, tidak sekadar mengajar secara kognitif, tetapi menghadirkan pendidikan yang bersifat humanistik. Ia memahami bahwa peserta didik bukan hanya subjek akademik, melainkan manusia dengan latar, luka, potensi, dan harapan. Perspektif ini sejalan dengan gagasan pendidikan humanis yang menempatkan relasi, empati, dan penghargaan terhadap martabat manusia sebagai inti proses belajar (Noddings, 2013).