Dalam konteks pendidikan tinggi, peran ibu dosen menjadi semakin strategis. Mereka tidak hanya menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga menjadi teladan integritas akademik, etos kerja, dan kepemimpinan yang berakar pada nilai. Penelitian tentang gender dan pendidikan menunjukkan bahwa kehadiran pendidik perempuan berkontribusi signifikan dalam menciptakan iklim belajar yang inklusif dan suportif (UNESCO, 2022).

Namun dedikasi ini sering kali luput dari pengakuan struktural. Beban kerja akademik, tuntutan publikasi, dan tanggung jawab pengabdian berjalan paralel dengan peran domestik yang tidak ringan. Dalam banyak kasus, keberhasilan institusi pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kerja-kerja sunyi para ibu pendidik kerja yang jarang disorot, tetapi menopang keberlanjutan sistem pendidikan itu sendiri.

Hari Ibu, dalam konteks ini, bukan sekadar penanda kalender atau ritus seremonial, melainkan sebuah ruang refleksi etis yang menuntut kedalaman kesadaran. Menghormati ibu tidak berhenti pada simbol dan perayaan, tetapi menuntut keberanian moral untuk mengakui bahkan menata ulang cara pandang kita terhadap peran perempuan dalam ekosistem pendidikan. Etika pendidikan, sebagaimana ditegaskan oleh Biesta (2015), menuntut lebih dari sekadar efektivitas dan capaian kinerja; ia menuntut keadilan, pengakuan, dan keberpihakan pada martabat manusia. Dalam terang ini, ibu terutama ibu pendidik hadir sebagai subjek etis yang selama ini memberi lebih dari yang dituntut sistem, bekerja melampaui pengakuan formal, dan menghidupi pendidikan sebagai panggilan kemanusiaan, bukan sekadar profesi.

Iklan