Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Dengan demikian, Hari Ibu memanggil kita bukan hanya untuk merayakan, tetapi untuk bertanya secara jujur: sejauh mana kebijakan pendidikan kita telah berpihak pada keadilan relasional, keseimbangan peran, dan penghormatan nyata terhadap perempuan ibu yang selama ini menghidupi pendidikan sebagai panggilan moral dan spiritual, bukan sekadar profesi administratif.
Perempuan, ibu, dan pendidik bukanlah identitas yang saling menegasikan, melainkan tiga dimensi eksistensial yang berkelindan dalam satu panggilan hidup. Ketiganya tidak bersaing, tetapi saling meneguhkan dalam praksis keseharian yang sarat makna. Dalam diri seorang ibu pendidik, kita belajar bahwa pendidikan sejati tidak lahir dari klaim otoritas atau kuasa struktural, melainkan dari keteladanan yang dihidupi; bukan dari relasi dominatif, tetapi dari pengabdian yang bersumber pada kasih, tanggung jawab moral, dan kesediaan untuk memberi diri bagi pertumbuhan sesama.
Memuliakan ibu—terutama ibu pendidik—adalah bagian tak terpisahkan dari memuliakan pendidikan itu sendiri. Di tangan mereka, ilmu tidak sekadar diajarkan, tetapi dihidupi; dan melalui dedikasi yang sering berlangsung dalam senyap, lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, tangguh, dan penuh harapan. (*)



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

