Kesenjangan semakin mencolok pada aspek inovasi. Berdasarkan data paten per satu juta penduduk periode 2000–2023, Indonesia hanya mencatat 84 paten, tertinggal jauh dari Singapura yang mencatat lebih dari 22.000 paten, serta Korea Selatan dengan lebih dari 93.000 paten.

“Ini bukan sekadar kesenjangan, tetapi jurang peradaban,” tegas Burhanuddin.

Melihat kondisi tersebut, ia menilai Indonesia membutuhkan lompatan besar dalam pembangunan manusia, bukan sekadar perbaikan bertahap. Ia berharap program pemenuhan gizi dan penguatan ekonomi desa dapat membentuk generasi muda yang lebih sehat, tangkas, dan cerdas dalam jangka menengah hingga panjang.

“Berbagai langkah pembangunan yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, BUMN, UMKM, koperasi, hingga masyarakat menunjukkan adanya upaya bersama menuju perbaikan kualitas hidup dan daya saing nasional,” pungkasnya. (*/rnc)