Situasi ini diperparah ketika Bitcoin gagal bertahan di atas level USD92.000 dan turun melewati batas psikologis USD90.000.

Ketidakpastian pasar juga meningkat setelah Presiden Donald Trump mengusulkan tarif hingga 500 persen terhadap negara-negara yang masih membuka perdagangan dengan Rusia. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran baru pada aset berisiko, termasuk kripto. Altcoin besar pun ikut terkoreksi tajam, sementara indeks Fear & Greed jatuh ke zona extreme fear.

Tanda Penguatan Muncul, tetapi Sentimen Masih Rapuh

Pada Rabu (19/11/2025), Bitcoin mulai menunjukkan sinyal penguatan seiring ekspektasi likuiditas yang membaik di AS. Hal ini dipicu rencana The Fed untuk menghentikan penurunan neraca serta membuka opsi operasi repo guna menambah cadangan likuiditas di sistem keuangan.

Iklan

Namun tekanan makro tetap menjadi hambatan. Inflasi yang belum terkendali, sektor properti dan otomotif yang melemah, serta ketidakpastian jelang keputusan suku bunga The Fed pada 10 Desember 2025 membuat pasar masih rentan.

Di sisi regulasi, fokus SEC untuk 2026 tak lagi menjadikan kripto sebagai prioritas utama. Lembaga tersebut kini memusatkan perhatian pada kewajiban fidusia, keamanan siber, privasi data, dan risiko teknologi seperti AI. Meski demikian, aset kripto tetap dapat diperiksa jika dianggap berisiko tinggi.

Koreksi Tidak Menandai Tren Bearish Baru

Penurunan harga saat ini bukan sinyal dimulainya tren bearish baru. Faktor utama koreksi berasal dari likuiditas yang mengetat, rotasi antar investor besar, dan sentimen pasar yang melemah akibat kebijakan suku bunga The Fed.