Jika kondisi ini dibiarkan, miras lokal akan terus menjadi salah satu penyumbang terbesar kriminalitas dan menurunkan kualitas sosial masyarakat.

Potensi Ekonomi yang Belum Tergarap Maksimal

Di balik berbagai masalah tersebut, miras lokal sesungguhnya memiliki potensi ekonomi besar jika dikelola dengan benar. Bahan baku nira lontar dan nira enau sangat melimpah di berbagai pulau di NTT. Secara geografis, NTT memiliki ribuan hektare pohon lontar. Selama ini hanya dimanfaatkan sebagian kecil oleh masyarakat.

Jika diolah dengan teknologi modern, produk turunan nira dapat menciptakan nilai tambah yang tinggi, tak hanya sebagai minuman, tetapi juga sebagai bahan baku industri lainnya.

NTT Memiliki Pasar yang Kuat

Miras lokal memiliki jalur distribusi yang mudah dan sudah mapan, meski selama ini berjalan ilegal. Pasarnya jelas, yakni upacara adat yang selalu membutuhkan sopi, kebutuhan industri kesehatan dan kosmetik seperti alkohol untuk antiseptik, hingga pangsa pasar pariwisata yang terus berkembang di NTT.

Dengan legalisasi dan standardisasi, pasar ini bisa berkembang dua hingga tiga kali lipat.

Beberapa negara telah membuktikan bagaimana miras tradisional dapat menjadi produk ekspor bernilai tinggi. Jepang memiliki sake, Korea memiliki soju, Meksiko memiliki tequila, dan Karibia memiliki rum. Semua minuman itu dulunya lahir dari tradisi, lalu dikembangkan menjadi industri global. NTT memiliki potensi yang sama.