Dengan demikian, keberadaan miras lokal tidak dapat dipandang sebagai komoditas semata, melainkan bagian dari identitas masyarakat. Menghilangkannya sama dengan memutus rantai tradisi.

Proses Produksi yang Masih Tradisional

Meski bernilai budaya tinggi, proses produksi miras lokal NTT masih sangat tradisional, yakni diproduksi menggunakan alat-alat sederhana seperti wadah kayu atau bambu, serta peralatan yang tidak steril secara kesehatan. Fermentasi dan destilasi dilakukan tanpa standar higienis dan tanpa pengawasan kualitas.

Konsekuensinya beragam. Tentu ada risiko kontaminasi, kadar alkohol yang tidak stabil, bahkan potensi metanol yang dapat membahayakan kesehatan. Masalah ini sering terabaikan dengan alasan “tradisi”, padahal kualitas buruk miras tidak hanya merusak tubuh, tetapi berdampak lebih luas pada reputasi miras lokal itu sendiri.

Karenanya, pelestarian budaya tak boleh hanya berhenti pada mempertahankan tradisi, tetapi juga meningkatkan kualitas agar tetap aman bagi masyarakat.

Fakta di Lapangan: Miras sebagai Pemicu Konflik dan Kriminalitas

Realitas keseharian memperlihatkan bahwa banyak kasus kekerasan, konflik antarwarga, penganiayaan, dan kecelakaan lalu lintas di NTT dipicu oleh konsumsi miras berlebihan. Data Polda NTT menyebutkan pada tahun 2023 terdapat 382 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas. Mayoritas karena mabuk miras.