Model seperti ChatGPT, menurutnya, bukan dirancang untuk berpikir kritis atau menentang konsensus, tetapi untuk menyesuaikan dengan konteks dan gaya pengguna.

Hal ini membuat model AI lebih cocok sebagai alat bantu atau asisten riset, bukan sebagai penggagas ide revolusioner.

“AI mungkin akan digunakan sebagai pendamping ilmuwan dalam menghasilkan ide-ide baru, tapi belum bisa menggantikan peran ilmuwan sejati,” tegas Wolf.

Iklan

Perbandingan dengan Pendapat Tokoh Lain

Komentar Wolf ini berbeda dengan pendapat Dario Amodei, CEO Anthropic, yang sebelumnya mengatakan bahwa AI dapat mempercepat kemajuan biologi dan kedokteran hingga 10 kali lipat.

Menurut Amodei, teknologi AI dapat memampatkan kemajuan yang seharusnya dicapai dalam 50–100 tahun menjadi hanya 5–10 tahun berkat kemampuan analisis data kompleks.

Wolf mengakui bahwa AI memang membantu mempercepat riset, seperti yang dilakukan oleh AlphaFold dari Google DeepMind, yang mampu menganalisis struktur protein dan membantu ilmuwan menemukan obat-obatan baru.
Namun, ia menegaskan bahwa itu belum dapat disebut “terobosan ilmiah sejati” karena inovasi masih berasal dari manusia, bukan dari model AI itu sendiri.

AI Masih di Tahap Pendamping, Bukan Pengganti

Thomas Wolf menilai bahwa untuk saat ini, AI hanya berperan sebagai co-pilot ilmuwan, bukan penggagas teori baru.