Ia menambahkan bahwa Rencana Kontinjensi Gempa Bumi dan Tsunami sudah tersedia, namun belum diuji coba. “Mudah-mudahan tahun depan bisa dilakukan gladi simulasi,” ujarnya.

Menurut Janwes, idealnya setiap jenis ancaman bencana memiliki rencana kontinjensi tersendiri. Dari sembilan ancaman bencana yang teridentifikasi di NTT, Kabupaten Rote-Ndao baru memiliki dua dokumen kontinjensi.

“Kami berharap tahun depan dapat disusun satu lagi, yaitu Rencana Kontinjensi Kekeringan, karena hampir setiap tahun kami menetapkan status siaga kekeringan, namun dokumen rencananya belum tersedia,” katanya.

Melalui kegiatan workshop dan latihan ini, Pemerintah Kabupaten Rote-Ndao bersama Program SIAP SIAGA berharap dapat memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, lembaga teknis, dan masyarakat dalam upaya mengurangi risiko bencana dan meningkatkan ketangguhan terhadap cuaca ekstrem. (*/rnc)