Hukum, Politik, dan Pendidikan di Tengah Krisis Integritas Publik

Al is de leugen nog zo snel, de waarheid achterhaalt haar wel.

Pepatah Belanda tersebut secara harfiah mengandung pesan sederhana tetapi filosofis: secepat apa pun kebohongan berlari, pada akhirnya kebenaran akan mengejarnya. Dalam bahasa Indonesia, ungkapan yang dipopulerkan oleh Prof. Dr. J.E. Sahetapy berbunyi: “Meskipun kebohongan itu lari secepat kilat, suatu waktu kebenaran akan mengalahkannya.”

Ungkapan ini terasa semakin relevan ketika membaca kehidupan publik Indonesia dewasa ini. Persoalannya bukan lagi sekadar apakah kebohongan pada akhirnya akan dikalahkan oleh kebenaran. Pertanyaan yang jauh lebih serius adalah: berapa banyak kerusakan yang terjadi sebelum kebenaran memperoleh kesempatan untuk berbicara?

Di sinilah pepatah tersebut memperoleh makna politik, hukum, dan pendidikan yang jauh lebih dalam.

Kebohongan Tidak Lagi Berjalan Kaki

Pada masa lalu, kebohongan mungkin membutuhkan waktu untuk berpindah dari satu orang kepada orang lain. Hari ini, kebohongan dapat diproduksi, dikemas, diperbanyak, dan didistribusikan dalam hitungan detik.

Ruang digital telah mengubah persoalan kebenaran dari sekadar persoalan etika individual menjadi persoalan struktural. Reuters Institute mencatat bahwa ekosistem media Indonesia semakin dipengaruhi platform digital dan kreator daring. Pada saat yang sama, muncul fenomena media “homeless” yang mengambil dan memproduksi ulang berita, bahkan dapat mengubah konteks sehingga informasi kehilangan akurasinya. (reutersinstitute.politics.ox.ac.uk⁠)