Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
SALAH satu kunci hidup sukses adalah disiplin. Banyak orang sukses karena mampu menggunakan waktunya dengan baik dan, karena itu, memiliki pola hidup yang teratur. Sebagai guru, kita ingin semua anak didik kita sukses – Semua orang tua juga, tentu, berharap sama.
Untuk itu, kita harapkan mereka mampu mengatur waktunya dengan baik sehingga pola hidupnya teratur. Keteraturan pola hidup itu termasuk, antara lain, kesanggupannya untuk mengendalikan dirinya. Artinya berbagai godaan yang menjerumuskannya kepada hal-hal yang tidak baik tidak akan diikutinya. Sebab mereka mengikuti patokan hidup yang baik yang teratur.
Itulah dambaan setiap pendidik terhadap semua anaknya di dan setelah sekolah. Termasuk dalam dambaan itu adalah harapan bahwa semua murid menguasai ilmu dan terampil sesuai dengan usianya. Untuk berilmu dan terampil, dua kompetensi yang diperlukan untuk sukses dalam hidupnya, seorang anak, menurut penulis, harus juga berkarakter baik. Sebab dengan itu mereka tidak hanya tahu mana yang benar, salah, layak, dan tak layak dalam hidupnya, tetapi juga tahu menempatkan diri.
Dalam konteks pendidikan, anak-anak yang tahu menempatkan diri pasti mengikuti nasihat gurunya. Sebab mereka percaya nasihat tersebut selalu menuntunnya kepada kesadaran penuh bahwa mereka ke sekolah untuk belajar, bukan untuk melakukan hal-hal yang negatif. Kesadaran tersebut juga lahir dari kenyataan bahwa mereka memiliki tujuan dan arah hidup yang harus ditempuhnya.
Persoalannya adalah bahwa anak-anak sekolah era sekarang, secara umum, tidak selalu memiliki tujuan hidup seperti itu. Akibatnya, mereka terjebak dalam tindakan negatif yang, dalam banyak hal, merugikan dirinya dan, kemudian, membuatnya gagal.
Untuk itu, para pendidik, menurut penulis, perlu menerapkan disiplin secara tegas, tetapi tanpa kekerasan, di sekolah. Tujuannya mulia. Dengan adanya disiplin itu, misalnya, dalam belajar, anak-anak didik dapat memahami dan menerapkan ilmu yang dipelajari dalam konteks yang lebih luas.
Lebih daripada itu, mereka juga dapat memiliki karakter yang dibanggakan dalam konteks kehidupan bersama. Sayangnya, penerapan disiplin tersebut, terkadang dibaca secara negatif oleh para murid. Mereka membaca “pelarangan” sebagai sesuatu yang negatif, padahal tujuannya positif.
Ini yang disebut Mark Manson sebagai kegagalan untuk memaknai negativitas sebagai positivitas. Kegagalan seperti itu relatif serius karena akan membuat para murid tidak mampu bersaing dalam Era Revolusi Industri 4.0 yang oleh F. Budi Hardiman sebut sebagai era komunikasi digital.
Era Revolusi Industri 4.0 menghendaki para murid memiliki passion yang pasti. Passion itu mengharuskan mereka untuk memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, berpikir kritis, berpikir kreatif, berkolaborasi, dan berkarakter baik, serta sanggup memecahkan masalah sendiri.
Menuntun anak didik mencapai tahap demikian memerlukan ketekunan dan usaha sadar dan terencana. Dalam proses pembelajaran, misalnya, seorang pendidik harus mengorganisir makna dan tanggung jawabnya dengan baik melalui proses pembelajaran yang sesuai dengan karakternya. Untuk itu, seperti yang disampaikan di atas, para murid perlu disiplin yang tinggi supaya mereka memiliki kompetensi itu dalam hidupnya.
Di situlah letak masalahnya. Para guru saat ini menilai banyak anak didik kurang disiplin dalam belajar. Mereka, secara umum, cuek, diam, dan apatis. Bila ditegur oleh gurunya, mereka malah ngeyel dan memberi respons secara tidak terpuji. Para gurupun merasa tidak dihargai.
Ironisnya, orang tua, sebagai peletak dasar karakter anak, sering tak mengikuti jejak anaknya dengan baik. Dalam keadaan demikian, orang tuanya cenderung menyalahkan gurunya, padahal maksud gurunya baik, yaitu untuk mendisiplinkan anak mereka. Ini terlihat, misalnya, pada kasus yang terjadi di SMKN 1 Taliwang, Sumbawa Barat. Akbar Sarosa, guru agama Islam, menghukum muridnya karena tidak shalat. Karena itu, dia dilaporkan ke polisi dan dituntut ganti rugi senilai Rp50 juta. Dia dianggap melakukan kekerasan kepada anak didiknya.
Selain itu, di SDN Sungai Naik, Musi Rawas, Sularno, guru honorer, divonis enam bulan penjara dan didenda Rp. 60 juta oleh majelis hakim karena mendisiplinkan anak didik yang tidak mengerjakan tugas. Di SMAN 7 Rejang Lebong, Bengkulu, seorang guru olahraga, Zaharman, bernasib tragis. Dia dituduh menendang murid yang merokok di lingkungan sekolah. Karena tuduhan itu, matanya dikatapel orang tua murid sehingga terancam buta.
Diapun dilaporkan ke polisi oleh muridnya atas dugaan kasus penganiayaan. Beberapa persoalan berikut menambah panjang cerita guru bermasalah karena mencoba menegakkan disiplin. Di Bali, seorang anggota DPD melakukan sidak ke sekolah-sekolah dan memarahi guru SMKN 5 Denpasar karena memberikan tugas menulis kepada murid yang terlambat.
Di SMAN 7, Cimarga, kepala sekolah menegur siswa yang merokok. Karena teguran itu, sebanyak 630 siswa mogok sekolah. Di NTT, Kota Kupang, seorang guru menjadi korban kekerasan fisik oleh siswinya sendiri usai ditegur karena melanggar kesepakatan yang telah dibuat di awal semester.
Setidaknya, itulah gejala nyata yang kini merebak dan viral di media sosial akhir-akhir ini. Situasi ini membuat guru bimbang: apa guru harus diam, tak boleh menegur dan membiarkan muridnya berbuat sesuka mereka? Bila diam, di manakah letak panggilan nurani seorang guru?
Dalam menjawab pertanyaan tersebut, sebagian orang tua, sebagai peletak dasar pembentukan karakter anak, terjebak dalam sikap delusif. Akibatnya, apa yang dilakukan oleh anaknya selalu diyakini oleh orang tua sebagai sesuatu yang harus dibela. Mereka, bahkan, berpendapat bahwa bila guru memberi teguran yang tegas, guru itu dianggap tak wajar. Gejala ini muncul karena kebiasaan dan kebebasan yang telah menyatu dan menyata dalam sistem keluarga. Lantas, bagaimana tindakan sang guru agar anak tetap disiplin dalam belajar?
Seorang guru pasti sadar bahwa menjadi guru itu, menurut Prof. Anita Lie, adalah panggilan hatinya untuk mengabdi. Setiap guru berhadapan dengan beragam pribadi dengan karakter yang beragam pula. Kasus yang viral di jagad maya akhir-akhir ini membuat guru berefleksi untuk mencari metode, strategi dan pendekatan yang tepat untuk mendisiplinkan anak didik sedemikian rupa sehingga mereka bisa belajar secara total tanpa masalah. Beberapa di antaranya dikemukakan berikut ini.
Pertama, perlunya dialog yang saling memberdayakan. Tujuan dialog ini adalah untuk mengenal karakter dan pribadi anak didik, mengidentifikasi motif di balik tindakannya dan mencintai anak itu agar ia bertumbuh secara baik dengan membangun komunikasi yang efektif dengan dia. Fokusnya pada pemecahan masalah dan guru dapat melayani secara tulus dengan memberikan motivasi.
Dialog ini penting dilakukan sebagai upaya untuk memulihkan karakter dan memuliakan anak didik supaya bertumbuh secara sadar, belajar dan berkembang secara total.
Kedua, setiap guru perlu membuat kesepakatan kelas. Pembuatan kesepakatan kelas dalam proses pembelajaran penting dilakukan sebagai upaya menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan. Jika anak didik tidak mematuhi kesepakatan kelas yang dibuat bersama, dia siap menerima konsekuensi.
Konsekuensinya, misalnya, membuat ringkasan artikel atau membuat tulisan sebanyak beberapa halaman sesuai kesepakatan bersama atau maju melakukan ice breaking di depan kelas. Ini adalah suatu penerapan disiplin positif. Disiplin positif itu berdasarkan pada konsep bahwa disiplin itu diajar dan disiplin itu mengajarkan.
Ketiga, tata tertib sekolah, sebagai landasan utama pembentukan karakter anak, perlu dijalankan secara maksimal. Tata tertib yang telah disepakati bersama orang tua murid perlu dibuat dalam bentuk berita acara, sehingga bila anak didik melanggarnya, tata tertib sekolah siap dikembalikan kepada orang tua.
Itulah beberapa cara yang, menurut penulis, bisa seorang guru lakukan untuk mendisiplinkan muridnya tanpa menimbulkan masalah bagi guru itu sendiri. Itu perlu dilakukan dengan tujuan untuk membuat setiap murid belajar secara tekun sehingga pengetahuannya, keterampilannya, dan karakternya menjadi lebih baik dari hari ke hari. Ini, pada gilirannya, diharapkan membuatnya sukses di sekolah dan di masyarakat setelah dia menyelesaikan pendidikannya.
Bahwa dalam perjalanannya sebagai murid, dia bermasalah, itu wajar. Adalah tugas guru untuk menuntunnya ke jalan yang benar, tetapi dengan cara yang santun, seperti yang penulis sampaikan di atas.
Bukan dengan cara kekerasan, walaupun tujuannya mulia. Penerapan disiplin dengan menggunakan kekerasan, seperti yang kita lihat dalam pengalaman sehari-hari dan berita yang viral di media sosial, selalu menimbulkan masalah dan, karena itu, perlu dihindari dengan cara seperti yang diusulkan di atas. (*)
