Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Menuntun anak didik mencapai tahap demikian memerlukan ketekunan dan usaha sadar dan terencana. Dalam proses pembelajaran, misalnya, seorang pendidik harus mengorganisir makna dan tanggung jawabnya dengan baik melalui proses pembelajaran yang sesuai dengan karakternya. Untuk itu, seperti yang disampaikan di atas, para murid perlu disiplin yang tinggi supaya mereka memiliki kompetensi itu dalam hidupnya.
Di situlah letak masalahnya. Para guru saat ini menilai banyak anak didik kurang disiplin dalam belajar. Mereka, secara umum, cuek, diam, dan apatis. Bila ditegur oleh gurunya, mereka malah ngeyel dan memberi respons secara tidak terpuji. Para gurupun merasa tidak dihargai.
Ironisnya, orang tua, sebagai peletak dasar karakter anak, sering tak mengikuti jejak anaknya dengan baik. Dalam keadaan demikian, orang tuanya cenderung menyalahkan gurunya, padahal maksud gurunya baik, yaitu untuk mendisiplinkan anak mereka. Ini terlihat, misalnya, pada kasus yang terjadi di SMKN 1 Taliwang, Sumbawa Barat. Akbar Sarosa, guru agama Islam, menghukum muridnya karena tidak shalat. Karena itu, dia dilaporkan ke polisi dan dituntut ganti rugi senilai Rp50 juta. Dia dianggap melakukan kekerasan kepada anak didiknya.
