Reformasi pendapatan daerah juga mendesak dilakukan. Pajak dan retribusi yang baru terealisasi separuh dari target menunjukkan betapa lemahnya sistem penarikan dan pengawasan. Digitalisasi pajak, penataan aset, dan optimalisasi BUMD dapat menjadi langkah nyata. Tapi semua itu akan sia-sia tanpa perubahan pola pikir untuk melihat bahwa kemandirian ekonomi bukan soal menunggu bantuan, tapi soal menciptakan nilai dari kekuatan sendiri.

Kabupaten Timor Tengah Selatan bisa belajar dari kabupaten lain yang berani mengubah arah. Banyak daerah kecil di Indonesia yang berhasil melompat dengan mengandalkan ekonomi kreatif dan pariwisata lokal. Jika daerah lain bisa, TTS pun bisa, asal mau menggeser fokus dari belanja konsumtif menuju belanja produktif, dari rutinitas menuju inovasi.

Soe tetap indah, tanahnya tetap subur, dan masyarakatnya tetap hangat. Tapi keindahan itu belum cukup untuk mengubah nasib jika ekonomi tetap bergantung pada kiriman dari Jakarta. Sudah saatnya TTS menulis bab baru dalam sejarahnya sebagai bukan sebatas daerah penerima, melainkan sebagai daerah pencipta. Sebab kemandirian bukan sekadar angka di laporan keuangan, tapi wujud harga diri sebuah daerah yang tahu bagaimana menghidupi dirinya sendiri. (*)

Iklan