2. Karakter Sistem Pendidikan: Sumber Keteladanan atau Kemunafikan?

Pendidikan sejati tidak bisa dipisahkan dari karakter sistem yang menjalankannya. Jika sistem pendidikan dipenuhi praktik pungutan liar, penugasan yang timpang, dan kebijakan yang tidak berpihak pada peserta didik dan guru, maka pendidikan karakter akan gagal bahkan sebelum dimulai (Zubaedi, 2011). Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan guru, melainkan dari apa yang mereka saksikan dilakukan oleh guru, kepala sekolah, dan birokrat pendidikan.

Bandura (1977), melalui teori pembelajaran sosialnya, menegaskan bahwa manusia belajar melalui observasi dan modeling. Maka jika anak melihat bahwa kejujuran tidak dihargai, dan manipulasi data justru dibenarkan, maka karakter yang terbentuk adalah karakter adaptif terhadap sistem yang rusak—bukan karakter kuat yang memperjuangkan nilai.

Iklan

3. Membentuk Karakter Pendidikan yang Sehat dan Berdaya Ubah

Pendidikan karakter hanya akan berhasil jika sistem pendidikan itu sendiri menjadi cerminan nilai-nilai yang diajarkan. Leithwood & Jantzi (2006) menyebut bahwa kepemimpinan transformasional dalam pendidikan adalah kunci perubahan budaya sekolah. Kepala sekolah dan guru harus menjadi pelaku utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang adil, aman, dan etis.