Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Not everything that can be counted counts, and not everything that counts can be counted.” (Albert Einstein)
Teknologi harus dikawal dengan nilai, etika, dan visi pendidikan yang manusiawi. Jangan sampai AI hanya menjadi proyek gagah-gagahan yang justru memperlebar ketimpangan.
Menyusun Langkah Bijak
Agar transformasi ini bermakna, berikut beberapa langkah yang layak dipertimbangkan:
- Perumusan kebijakan AI yang etis dan berkeadilan. Negara perlu hadir sebagai pengarah arah, bukan hanya pengatur teknis.
- Pelatihan guru secara menyeluruh dan berkelanjutan. Tidak semua guru siap menerima perubahan, dan itu wajar. Yang penting, mereka didampingi.
- Kemitraan dengan sektor teknologi. Perguruan tinggi dan perusahaan edutech bisa digandeng untuk menciptakan solusi lokal yang kontekstual.
- Penekanan pada hybrid learning yang seimbang. Teknologi dan interaksi manusia harus berjalan beriringan.
- Evaluasi dari bawah ke atas. Libatkan suara siswa, guru, dan orang tua dalam menilai keberhasilan sistem baru ini.
“Vision without action is a daydream. Action without vision is a nightmare.” (Pepatah Jepang)
AI dan Pendidikan yang Membebaskan
Teknologi hanyalah alat. Ia bisa menjadi jembatan menuju kemajuan, atau jurang baru yang menakutkan tergantung pada siapa yang mengendalikan dan nilai apa yang menjiwainya. Sekolah cerdas sejati bukanlah sekolah yang paling modern alatnya, tetapi yang paling sadar akan arah dan misinya: mendidik manusia seutuhnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan