Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Technology will never replace great teachers, but in the hands of great teachers, it can be transformational.”(George Couros)
Dari “Mengajar” ke “Membimbing”
Perubahan paradigma ini membawa tantangan bagi para guru. Di masa lalu, guru menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Kini, saat mesin bisa menyampaikan materi dengan lebih cepat dan presisi, peran guru berubah menjadi fasilitator yang membimbing, memanusiakan, dan mengarahkan siswa berpikir kritis dan etis.
“The art of teaching is the art of assisting discovery.” (Mark Van Doren)
Teknologi mengubah alat, tetapi bukan menggantikan hati. AI bisa membantu menyusun soal, menganalisis capaian, atau mengelompokkan siswa. Namun ia tak bisa menggantikan kepekaan guru terhadap ekspresi murid, kehangatan dalam relasi, dan nilai-nilai yang ditanamkan lewat teladan hidup.
Jangan Buta pada Risiko
Meski potensinya besar, penggunaan AI dalam pendidikan tidak boleh gegabah. Ada risiko privasi data yang terancam. Ada kemungkinan bias algoritma yang tanpa sadar menguntungkan satu kelompok dan merugikan kelompok lain. Ada pula kesenjangan digital yang lebar antara sekolah-sekolah di kota dan di pelosok, yang bisa semakin memburuk bila tidak disiapkan dengan adil.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan