Untuk menghindari kegagalan seperti itu, sebuah sekolah, termasuk sekolah unggul seperti SMA Unggul Garuda di Soe itu nanti, harus membiarkan anak-anak di sekolahnya belajar sesuai dengan BMKB mereka. Ini penting karena, tampaknya, kegiatan belajar yang fokus pada BMKB murid, dalam puluhan dekade terakhir ini, sering terabaikan. Pengabaian itu juga terlihat ketika Stella Christie mengatakan bahwa sekolah unggul, yang akan dibangun itu, fokus pada peningkatan penguasaan sains dan teknologi seperti yang disinggung di awal tulisan ini.

Dengan mengatakan itu, Stella Christie, secara sadar atau tidak, menutup pintu terhadap anak-anak didik, yang BMKB-nya di luar sains dan teknologi. Artinya, menurut Stella Christie, para murid yang BMKB-nya pada seni tari, seni suara, seni rupa, seni sastra, seni tenun, olahraga, dan berbagai keterampilan motorik lainnya, tidak punya tempat di sekolah unggul yang akan dibangun itu. Ini, tentu, salah.

Memang, sains dan teknologi juga diperlukan dalam penumbuhkembangan seni dan keterampilan apapun. Benar. Dalam konteks itu, fokus pada sains dan teknologi bisa dilihat sebagai bagian dari upaya sekolah unggul, seperti SMA Unggul Garuda, untuk menggunakan sains dan teknoloogi dalam penguatan ilmu pengetahuan atau teknologi atau seni atau ketiganya sekaligus (IPTEKS), bahkan termasuk penguatan karakter agung dalam diri setiap murid kita.