Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Namun, persoalannya adalah bagaimana caranya agar sekolah itu benar-benar menjadi sekolah unggul, yaitu sekolah tempat lahir, pada saatnya nanti, sumber daya manusia (SDM) yang unggul dalam berbagai bidang. SDM unggul itu, pada gilirannya, diharapkan mampu membuat NTT (jauh) lebih maju, makmur, modern, toleran, dan damai dalam bingkai Indonesia sebagai rumah kita bersama.
Menjawab persoalan itu secara benar, saya pikir, penting untuk menghindari kebiasaan kita selama ini yang, kadang-kadang, suka “omon-omon” tanpa implementasi yang pas atau, dalam banyak hal, implementasinya tidak sesuai dengan “omon-omon”-nya. Pada masa awal Orde Baru, misalnya, para pejabat kita berteriak lantang bahwa Indonesia siap melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen. Implementasinya? Jauh panggang dari api: yang berhaluan kiri dibabat tanpa ampun, korupsi merebak, dan Indonesia hampir bangkrut pada akhir 1990-an.
Pada masa reformasi, sejak akhir dekade itu, tampaknya, sama. Setali tiga uang. Reformasi terseok-seok. Korupsi, misalnya, semakin semarak. Sejak beberapa tahun terakhir, Indonesia memang berhasil masuk upper-middle income countries dan angka kemiskinan tinggal satu digit, tetapi pendapatan per kapita Indonesia masih jauh di bawah Malaysia, apalagi Singapura; dan, jumlah rakyat Indonesia yang sangat miskin sangat tinggi, yaitu 23,85 juta jiwa per Maret 2025. Itu kurang lebih sama dengan empat kali jumlah penduduk NTT. Sangat banyak!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan