Dietrich Bonhoeffer dalam bukunya Life Together menulis:
Gereja yang saling memandang sebagai musuh adalah gereja yang telah melupakan Kristus di tengah-tengah mereka.”
Tugas gereja hari ini bukan memperuncing perbedaan, tetapi mencari ruang bersama untuk menyatakan kasih Allah kepada dunia yang semakin retak oleh kebencian.

Protestan dan Katolik memiliki sejarah panjang yang penuh luka. Namun kita juga punya peluang untuk menorehkan sejarah baru: sejarah dialog, pengampunan, dan kerja sama. Dunia membutuhkan gereja yang bersatu dalam kasih, bukan gereja yang saling menyerang dengan tuduhan dan stigmatisasi.

Penutup: Teguran dalam Kasih

Sebagai seorang Protestan, saya tidak merasa perlu membalas dengan kebencian. Saya memilih berdiri pada kasih Kristus yang memanggil kita semua untuk menjadi satu di dalam-Nya.

Kepada Romo Patris Allegro, izinkan saya mengingatkan dengan penuh hormat: Mari kita hentikan retorika yang membelah tubuh Kristus. Jangan lagi menyiram luka lama dengan garam baru. Dunia sudah cukup lelah dengan kebencian agama. Ingatlah kata-kata Yesus dalam Yohanes 13:35:
“Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Kiranya kita semua, Katolik maupun Protestan, bisa kembali kepada kasih itu kasih yang mempersatukan, bukan memecah. (*)