Sebagai contoh, di Indonesia, persekutuan gereja-gereja (PGI dan KWI) telah berjalan bersama dalam banyak forum. Mengapa ada oknum yang justru menghidupkan kembali konflik lama dengan narasi kebencian?

Teologi inkarnasi mengajarkan bahwa Allah menjadi manusia untuk menyelamatkan, bukan untuk mengutuk. Kristus datang bukan untuk menciptakan permusuhan antarumat, tetapi untuk memperdamaikan yang berseteru (Efesus 2:14-16).

4. Bahaya Teologi Kebencian: Melawan Esensi Injil

Menyebut orang Kristen sebagai “ateis berbungkus Alkitab” adalah tuduhan yang serius sekaligus tidak berdasar. Dalam tradisi teologi, ateisme adalah penolakan terhadap eksistensi Allah. Bagaimana mungkin umat yang menyembah Allah Tritunggal, menjunjung tinggi Kitab Suci, dan hidup dalam ibadah disebut ateis?

Yesus mengajarkan dalam Matius 5:22, “Barangsiapa berkata kepada saudaranya: Kafir! Maka ia wajib masuk neraka yang menyala-nyala.” Ini bukan soal perbedaan pendapat, melainkan soal bagaimana kita menjaga hati dan lidah.

Bahaya teologi kebencian adalah ketika orang mulai mengklaim dirinya paling benar dan menyebut yang lain sebagai musuh Allah. Padahal, dalam 1 Yohanes 4:20 dikatakan, “Jika seseorang berkata: Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta.”
Jika kita tidak bisa mengasihi saudara seiman yang berbeda denominasi, bagaimana kita bisa mengaku mengasihi Allah?

5. Menuju Rekonsiliasi dan Teologi Kasih

Kita tidak bisa menghapus sejarah Reformasi dan Kontra-Reformasi. Luka masa lalu itu nyata. Namun, sebagai gereja masa kini, kita dipanggil untuk mempraktikkan theologia crucis teologi salib yang tidak berpusat pada kekuasaan dan eksklusivitas, melainkan pada kerendahan hati, pengorbanan, dan rekonsiliasi.