Reformasi terjadi sebagai respons terhadap praktik penjualan indulgensi dan berbagai penyimpangan yang merusak integritas gereja saat itu. Apakah ini berarti Luther adalah anti-Kristus? Jelas tidak.

Menurut Yohanes 4:2-3, anti-Kristus adalah mereka yang “tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia.” Jika Protestan mengakui Kristus sebagai Tuhan, menghidupi firman, dan memberitakan Injil, bagaimana mungkin mereka disebut anti-Kristus?

Karl Barth, teolog Protestan abad ke-20, dalam karyanya Church Dogmatics menegaskan bahwa gereja Protestan tetap berdiri di atas fondasi pengakuan iman kepada Kristus. Bahkan Vatican II dalam dokumen Unitatis Redintegratio (1964) mengakui bahwa saudara-saudara Protestan tetap bagian dari tubuh Kristus, walau berada di luar komunio penuh dengan gereja Katolik.

3. Ekumenisme: Jalan Damai dalam Tubuh Kristus

Zaman sudah berubah. Dialog ekumenis adalah panggilan zaman modern. Gereja Katolik melalui Konsili Vatikan II membuka pintu lebar-lebar untuk berdialog dengan Protestan dan Ortodoks. Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Ut Unum Sint (1995) dengan tegas menyatakan kerinduan akan persatuan umat Kristiani di seluruh dunia.

Pernyataan bahwa Protestan adalah sistem yang harus “diberantas” adalah pernyataan yang mundur jauh dari semangat ekumenisme. Ini adalah retorika berbahaya yang seharusnya ditinggalkan. Gereja-gereja Protestan dan Katolik di berbagai tempat telah bekerja sama dalam pelayanan sosial, pendidikan, bahkan advokasi keadilan.