Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Pendahuluan: Pendidikan yang Berakar atau Terasing?
Pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan potensi besar untuk menjadi ruang pembentukan manusia yang berkarakter, bermartabat, dan berakar pada nilai budaya lokal. Namun, faktanya, sebagian besar praktik kepemimpinan pendidikan di daerah ini masih terjebak dalam pola yang birokratis, formalistik, dan cenderung mengabaikan konteks sosial-budaya masyarakatnya. Kepala sekolah sering diposisikan hanya sebagai eksekutor kebijakan pusat, bukan sebagai pemimpin yang membangun relasi sosial dan budaya di komunitasnya.
Padahal, masyarakat NTT, khususnya suku-suku di Timor, memiliki sistem nilai yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi model kepemimpinan pendidikan yang lebih kontekstual dan relevan. Salah satu warisan budaya tersebut adalah Hela Keta, sebuah sistem relasi sosial yang telah mengatur kehidupan masyarakat Timor secara turun-temurun. Sayangnya, nilai-nilai luhur ini belum banyak diintegrasikan ke dalam tata kelola pendidikan di tingkat sekolah dasar hingga menengah. Artikel ini hendak mengajak kita untuk merefleksikan bagaimana prinsip-prinsip Hela Keta dapat diadaptasi sebagai model kepemimpinan pendidikan berbasis kearifan lokal.
Memahami Hela Keta: Lebih dari Sekadar Tradisi Perkawinan
Secara umum, masyarakat luar sering memahami Hela Keta hanya sebatas adat perkawinan Timor, di mana Hela berarti pihak pemberi perempuan (wife giver) dan Keta adalah pihak penerima perempuan (wife taker). Namun dalam realitas sosial masyarakat Timor, Hela Keta bukan sekadar urusan adat pernikahan. Ia adalah sistem relasi sosial yang membentuk jaringan solidaritas antar marga, membangun kesepakatan hidup bersama, dan menjadi mekanisme sosial untuk mengelola konflik, menjaga harmoni, serta mempererat ikatan sosial antar komunitas.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan