Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Penelitian saya menemukan bahwa ketergantungan pada perangkat lunak tertentu menghasilkan kecenderungan homogen dalam desain. Banyak karya arsitektur yang tampak serupa karena dibentuk oleh preset, plugin, atau alur kerja digital yang sama. Di sinilah letak kekhawatiran saya: proses desain menjadi terlalu sistematis, terlalu “bersih”, dan kehilangan dimensi personal.
Kreativitas arsitek tidak boleh direduksi menjadi manipulasi teknis atas data visual. Sebaliknya, ia harus tetap menjadi proses reflektif, eksperimental, dan terhubung dengan konteks sosial dan budaya. Seperti yang dikemukakan Nigel Cross (2001), desain adalah bentuk pengetahuan yang khas berbasis pada cara berpikir, merasa, dan bertindak yang tidak selalu dapat dirasionalisasi oleh mesin.
Karya yang Hidup: Antara Algoritma dan Intuisi
Dalam sejarah arsitektur, kita mengenal karya-karya besar yang lahir bukan dari software mutakhir, melainkan dari pergulatan batin dan kedalaman imajinasi. Antoni Gaudí, misalnya, menciptakan Sagrada Familia sebagai wujud iman dan spiritualitas, bukan sekadar respons terhadap fungsi atau efisiensi ruang. Tadao Ando menciptakan bangunan yang berbicara dalam keheningan, bukan melalui render 3D yang gemerlap.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan