DI era digital seperti sekarang, gadget telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan, termasuk dalam dunia anak-anak dan remaja. Sekolah online, akses informasi, hiburan, dan komunikasi, semuanya berpusat pada satu benda kecil yang selalu berada di genggaman: smartphone atau tablet. Namun, di balik manfaat besar yang ditawarkannya, gadget juga membawa ancaman tersembunyi terutama jika penggunaannya tidak disertai kontrol diri dan kesadaran akan batas.

Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2023) menunjukkan bahwa lebih dari 80% anak dan remaja di Indonesia menggunakan internet lebih dari 4 jam sehari, sebagian besar untuk aktivitas hiburan seperti media sosial dan game. Di sinilah persoalannya muncul: gadget yang seharusnya menjadi alat bantu belajar dan berkarya, justru berubah menjadi “tuan” yang mengatur pola pikir, emosi, bahkan relasi sosial generasi muda kita.

Gadget Adalah Alat, Bukan Penguasa

Psikolog anak dan remaja, Dr. Seto Mulyadi, pernah mengingatkan bahwa gadget ibarat pisau bermata dua: bisa menjadi alat edukatif jika digunakan dengan bijak, tapi juga bisa membentuk perilaku pasif, konsumtif, bahkan adiktif jika tidak dikendalikan. Sayangnya, banyak anak dan remaja belum dibekali kemampuan untuk memilah mana konten yang mendidik dan mana yang menyesatkan.

Iklan