oleh: Robert Kadang

Kedengarannya mungkin paradoks. Tapi, itulah fakta sejarah berdirinya Gereja Toraja di Kupang. Warga Gereja Toraja Jemaat Kupang kini boleh berlega ria, setelah “marathon” menggelar tahapan demi tahapan, pagelaran tradisi budaya Toraja dalam rangka penahbisan gereja. Menguras tenaga, pikiran dan money. Namun, indah pada saatnya. Prasasti Gereja Toraja Jemaat Kupang, resmi ditanda-tangani Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena. Klik, ko mangka melo to..!

Kehadiran Gereja Toraja Jemaat Kupang yang digadang-gadang sebagai simbol toleransi di Kota Kupang, tidaklah berlebihan. Pasalnya, menjadi ikon di perantauan. Di Bumi Flobamora, tungka sangan na. Tapi.., Pdt. Alfred Anggui, selaku ketua Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja, dalam sambutannya sempat “terusik” dengan judul bulletin “Sangtorayan” (edisi khusus) desaign beta. “Tunas yang Tumbuh pada Batu Bertanah. Apa tidak salah nih?” gumannya balik bertanya.

Iklan

Judul itu menggelitik. Dan, Pdt. Alfred kritis meresponnya. Sebagai jurnalis, beta senang jika ada respek pembaca. Kurre pak pendeta, yang paham benar kondisi topografi di Kota Kupang. Hampir semua bangunan dibangun di atas batu bertanah. Beda di Sulawesi. Rumah-rumah dibangun di atas tanah berbatu. Clear ya..!