Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
So’E, RakyatNTT.ID — Lembaga Rimbun Pah Feto (Rimpaf) Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menyampaikan keprihatinan mendalam dan kemarahan atas dugaan kekerasan yang dilakukan seorang guru terhadap murid SD Inpres One, Desa Poli, Kecamatan Santian, yang berujung tragis pada meninggalnya seorang anak berusia 10 tahun.
Ketua Rimpaf TTS, Honing Alvianto Bana, menegaskan bahwa tindakan kekerasan di dunia pendidikan adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan dan profesi guru.
“Kami mengutuk keras segala bentuk kekerasan terhadap anak di sekolah. Sekolah seharusnya menjadi ruang aman dan penuh kasih, bukan tempat yang menimbulkan ketakutan, apalagi kehilangan nyawa,” ujar Honing di Soe, Rabu (9/10/2025).
Kekerasan Anak di Sekolah jadi Luka Moral Dunia Pendidikan
Honing menilai peristiwa tragis ini sebagai luka moral bagi dunia pendidikan di Kabupaten TTS. Ia menekankan pentingnya peran semua pihak — mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah — dalam memastikan anak-anak mendapatkan lingkungan belajar yang aman dan bebas kekerasan.
“Perlindungan anak harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya keluarga atau lembaga pemerintah,” tegasnya.
Ia juga menyerukan agar aparat kepolisian bertindak cepat dan transparan dalam menangani kasus ini.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

