Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Sudah lama perguruan tinggi di daerah dituding sebagai “menara gading” sebuah institusi yang berdiri megah dengan rutinitas akademiknya, namun asing dan berjarak dari realitas sosial di sekitarnya. Di Sumba, gejala ini terasa nyata ketika kampus-kampus lokal lebih sering sibuk dengan formalitas administratif dan upacara seremonial pencetakan ijazah. Sementara itu, jeritan konflik agraria, marginalisasi masyarakat adat, dan ringkihnya mutu pendidikan dasar-menengah di pelosok kampung seolah luput dari meja riset akademisi. Kampus sibuk mengisolasi diri dalam tembok teori, abai terhadap gemuruh krisis di luar pagarnya.
Persoalannya, hingga hari ini masih terdapat jurang ketimpangan yang lebar antara kampus di daerah dan perguruan tinggi besar di pusat-pusat peradaban nasional. Ketimpangan tersebut bukan sekadar urusan infrastruktur fisik, melainkan rapuhnya kultur akademik, rendahnya kapasitas riset, minimnya publikasi ilmiah, hingga lemahnya kemampuan membangun jejaring intelektual yang berdampak nyata bagi daerah. Perguruan tinggi kita belum sepenuhnya menjadi pusat produksi pengetahuan atau motor transformasi, melainkan baru sebatas agen birokratisasi pendidikan yang memproduksi gelar tanpa taji.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan