Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Di sinilah pentingnya meredefinisi pendidikan tinggi yang berbasis pada realitas sosial-budaya dan ruang hidup lokal. Konsep penguasaan tanah komunal, sistem ketahanan pangan lokal, perlindungan hutan adat, serta hukum adat Sumba harus dikembangkan menjadi sumber ilmu pengetahuan dan subjek kajian akademik-legal yang serius. Perguruan tinggi di Sumba harus mampu hadir sebagai jembatan yang mengawinkan pengetahuan modern dengan kearifan lokal masyarakat (indigenous knowledge), sekaligus menjadi benteng ilmiah yang membela hak-hak hidup masyarakat.
Oleh karena itu, tantangan terbesar Universitas Stella Maris Sumba dan seluruh perguruan tinggi di Sumba hari ini bukan lagi soal kemegahan fisik gedung, melainkan bagaimana menghidupkan ekosistem akademik yang sehat. Kampus harus melahirkan budaya membaca yang kuat, tradisi meneliti yang jujur, diskusi yang tajam, dan keberanian menulis. Mahasiswa tidak boleh hanya dididik menjadi pencari kerja (job seeker) yang patuh terhadap pasar modal, tetapi dibentuk menjadi warga intelektual organik yang memiliki kepekaan agraria, kesadaran kebudayaan, dan tanggung jawab sosial yang konkret.
Apalagi, dunia pendidikan kini sedang memasuki era disrupsi teknologi melalui kecerdasan buatan (artificial intelligence). Kampus di daerah tidak boleh gagap dan tertinggal. Namun, modernisasi global juga jangan sampai melahirkan keterasingan budaya baru (cultural alienation) bagi anak-anak Sumba. Pembangunan tanpa fondasi identitas lokal dan perlindungan terhadap hak atas tanah leluhur hanya akan melahirkan kemajuan yang rapuh, asing, dan kehilangan kompas moral.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan