(Belajar dari tragedi Ngada, kisah Musa, dan panggilan GMIT sebagai Gereja Ramah Anak)

TRAGEDI meninggalnya seorang anak laki-laki kelas IV SD berinisial YBS (10) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, menyentak kesadaran publik NTT dan Indonesia. Peristiwa ini bukan sekadar statistik duka atau berita sensasional; ia adalah cermin yang memantulkan wajah kita bersama; wajah keluarga, sekolah, negara, komunitas, dan lembaga agama.

Ketika seorang anak sampai merasa tidak sanggup lagi melanjutkan hidup karena himpitan ekonomi, tersendatnya akses bantuan pendidikan, dan beban sosial yang terasa “terlalu berat,” kita berhadapan dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan kalimat-kalimat klise: apa yang sesungguhnya sedang gagal dalam cara kita melindungi anak? Di titik ini, pernyataan Gubernur NTT bahwa semua pihak gagal termasuk lembaga agama, patut dibaca bukan sebagai serangan, tetapi sebagai panggilan pertobatan sosial yang serius.

Iklan

Kegagalan yang dimaksud tidak harus dipahami sebagai niat buruk atau ketiadaan kasih. Banyak orang dewasa di sekitar anak-anak sesungguhnya memiliki cinta, bahkan keprihatinan. Namun tragedi ini menunjukkan bahwa kasih yang tidak ditopang sistem perlindungan, kepekaan psikososial, dan jembatan akses terhadap sumber daya bisa berubah menjadi kasih yang “tidak sampai” ia ada, tetapi tidak menjangkau saat paling dibutuhkan.