Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Di tingkat masyarakat, kemiskinan sering dianggap biasa sesuatu yang “memang nasib” sementara di tingkat batin anak, kemiskinan dapat menjelma menjadi pesan sunyi: “Aku merepotkan,” “Aku beban,” “Aku tidak pantas bermimpi.” Ketika pesan ini tidak disangga oleh orang dewasa yang hadir dan komunitas yang menopang, anak bisa mengambil kesimpulan tragis tentang dirinya.
Karena itu, pembacaan gereja atas tragedi Ngada tidak boleh berhenti pada belasungkawa. Belasungkawa penting, tetapi belasungkawa tanpa transformasi akan berakhir sebagai ritus emosional yang cepat menguap.
Gereja perlu menempatkan tragedi ini sebagai “teks sosial” yang menuntut tafsir rohani: di mana posisi kita ketika anak berada di ujung batas? Apakah kita memiliki mekanisme untuk mengetahui bahwa seorang anak sedang tertekan? Apakah kita punya cara untuk merespons secara cepat, lembut, dan efektif? Pertanyaan- pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan organisasi, melainkan pertanyaan iman.
Untuk menjawabnya, Alkitab menawarkan narasi yang relevan, bukan karena identik secara situasi, tetapi karena menyingkap pola teologis tentang perlindungan anak dalam kondisi ekstrem. Kisah Musa dalam Keluaran 1-2 memperlihatkan dunia yang keras: negara mengeluarkan kebijakan yang mematikan masa depan generasi.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

