“Rote Ndao memiliki harapan masa depan yang lebih baik. Syaratnya adalah unity, menjaga harmoni dan saling support. Jika modal dasar ini terus dijaga maka bukan tidak mungkin tahun-tahun ke depan akan jauh lebih baik dari hari ini,” tegasnya.

Terentaskan Bukan Berarti Pembangunan Rote Ndao Selesai

Meski mendapatkan penghargaan nasional, Paulus Henuk mengingatkan bahwa status sebagai daerah yang mengalami kemajuan progresif bukan berarti seluruh persoalan pembangunan telah selesai.

Rote Ndao masih menghadapi tantangan geografis sebagai daerah kepulauan dan wilayah perbatasan negara.

Di sisi lain, daerah tersebut memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari sektor pariwisata, pertanian, peternakan, perikanan hingga industri tambak garam melalui proyek K-SIGN.

Paulus juga memberikan catatan terhadap karakter pertumbuhan ekonomi Rote Ndao yang mencapai 7,96 persen pada 2025.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut masih perlu dikawal agar tidak berhenti pada aktivitas investasi, tetapi berlanjut menjadi pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh kegiatan produksi secara berkelanjutan.

“LPE 2025 sebesar 7,96% masih bersifat Investment Divine Growth, di mana pertumbuhan yang masih bersifat sementara selama masa investasi sedang berlangsung, yang harus segera berubah menjadi Production Divine Growth yang bersifat permanen,” jelas Paulus.