“Di awal usaha, saya juga sempat tidak punya pekerjaan selama satu sampai dua tahun. Saat itu saya bingung mau membuat usaha apa dan bagaimana mencari pasarnya,” katanya.

Menurut Rooli, peluang mulai terlihat ketika ia melihat potensi bahan baku kayu di Sumba, termasuk kayu jati di wilayah Bukambero.

“Ketika melihat potensi di Bukambero, ada kayu jati. Dari situ kami mulai mengembangkan usaha furnitur. Apalagi akses ekspedisi dan pengiriman barang sudah semakin terbuka,” ujarnya.

Iklan

Dalam menjalankan usaha, Rooli mengatakan Sumba Furniture membutuhkan tenaga kerja untuk berbagai bidang, mulai dari logistik, pemesanan, administrasi hingga tenaga tukang.

Untuk tenaga tukang, saat ini sebagian masih berasal dari Jawa karena membutuhkan keterampilan khusus.

Meski demikian, Rooli mengatakan pihaknya sedang berusaha melatih tenaga kerja lokal agar ke depan semakin banyak orang Sumba yang memiliki keterampilan di bidang furnitur dan interior.

“Saat ini tenaga tukang kami masih ada yang berasal dari Jawa. Tetapi kami sedang mendidik dan melatih orang-orang kita sendiri agar nantinya bisa memiliki keterampilan yang sama,” kata Rooli.

Menurut dia, penggunaan tenaga kerja dari luar daerah bukan berarti mengesampingkan tenaga lokal. Sebaliknya, hal tersebut menjadi bagian dari proses belajar dan transfer keterampilan.