Kupang, RakyatNTT.ID — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Guru Besar (PKM Gubes) Universitas Nusa Cendana (Undana) memberikan pendampingan kepada SMK Negeri 3 Kupang untuk memperkuat pemasaran produk One School One Product (OSOP) sekaligus memetakan dan membina siswa bertalenta tinggi.

Program bertajuk “OSOP (One School One Product) dan Pembinaan Anak Genius NTT” tersebut merupakan bagian dari PKM Guru Besar Berdampak Tahun 2026. Kegiatan berlangsung di Aula Komodo SMKN 3 Kupang, Rabu (23/9/2026).

Pendampingan melibatkan 10 orang pendamping dan akan berlangsung hingga Desember 2026 melalui pertemuan luring maupun daring menggunakan Zoom Meeting.

Program ini diarahkan untuk mendorong kemandirian finansial lulusan SMK sekaligus memperluas pemasaran produk unit usaha sekolah.

Undana Dorong Produk SMK Masuk Pasar Lebih Luas

Koordinator Program PKM GB Undana, Prof. Drs. Tans Feliks, M.Ed., Ph.D., mengatakan pendampingan tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan siswa, tetapi juga membangun kemampuan mereka agar mampu mandiri setelah menyelesaikan pendidikan.

“Kami datang membawa mimpi besar. Melalui pendampingan ini, kami ingin membekali anak-anak minimal satu keterampilan (skill) agar setelah lulus mereka mandiri secara finansial, percaya diri, dan tidak menjadi ‘pembuat masalah’ di tengah masyarakat,” ujar Prof. Feliks.

Dalam program tersebut, tim PKM Gubes Undana juga merancang model tata kelola pemasaran dan e-catalog produk SMK.

Model tersebut nantinya diharapkan dapat dikembangkan dan disebarluaskan ke sekolah-sekolah di tujuh kabupaten dan satu kota di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dengan demikian, program OSOP tidak berhenti pada produksi barang di lingkungan sekolah, tetapi diarahkan untuk membangun ekosistem pemasaran yang lebih terstruktur.

Pembinaan Siswa Bertalenta Tinggi

Selain penguatan pemasaran produk sekolah, PKM Gubes Undana memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan siswa bertalenta tinggi.

Tim menyebut siswa dengan kemampuan unggulan tersebut sebagai “Mutiara Hitam” NTT, yang diharapkan dapat dikembangkan pada berbagai bidang, mulai dari eksakta, sastra hingga ekonomi.

Menurut Prof. Feliks, pemetaan dan pembinaan talenta sejak sekolah dapat membuka peluang bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Jika kita bina dengan konsep yang benar, 20 tahun ke depan bisa lahir peraih Nobel dari NTT. Mutiara-mutiara hitam inilah yang akan tampil membanggakan daerah,” katanya.

Program tersebut sekaligus mendorong sekolah dan guru agar mampu mengenali potensi khusus yang dimiliki peserta didik.

Guru Didorong Menjadi Fasilitator Pengembangan Talenta

Anggota Tim PKM Gubes Undana, Dr. Diaspora Tualaka, S.Pd., M.Hum., mengatakan kehadiran akademisi di SMKN 3 Kupang juga diarahkan untuk berbagi pengalaman dengan tenaga pendidik.

Menurutnya, guru memiliki posisi penting dalam mengidentifikasi siswa yang memiliki kemampuan atau kualifikasi khusus.

“Melalui kegiatan ini kami juga ingin para guru di SMK 3 Kupang bisa menjadi fasilitator para guru di SMA lain di NTT. Selain itu, para guru bisa membantu menemukan dan mengidentifikasi para siswa dengan kualifikasi dan kemampuan khusus agar bisa mempersiapkan mereka melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi,” jelas Dr. Diaspora.

Dengan pola tersebut, pendampingan diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa SMKN 3 Kupang, tetapi juga dapat menghasilkan praktik baik yang dapat diterapkan di sekolah lain di NTT.

SMKN 3 Kupang Punya Beragam Produk Teaching Factory

Plt. Kepala SMKN 3 Kupang, Altje L. Papote, S.Tp., M.Pd., menyambut positif kolaborasi bersama Tim PKM Gubes Undana.

Ia menjelaskan, SMKN 3 Kupang memiliki sejumlah kompetensi keahlian yang berpotensi dikembangkan menjadi unit usaha sekolah, antara lain Perhotelan, Kuliner, Busana, Kecantikan, serta Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).

Melalui unit Teaching Factory (Tefa), sekolah telah menghasilkan sejumlah produk dan layanan.

Di antaranya keripik pisang, roti yang sedang dalam proses pengurusan izin BPOM dan sertifikasi halal, olahan kacang gula lokal, layanan laundry perhotelan, produk busana, hingga minyak kemiri.

“Kami berharap kolaborasi ini membantu meningkatkan kualitas dan efisiensi produk Tefa kami, seperti mendorong pemasaran kacang gula dan keripik masuk ke supermarket, serta mengatasi kendala pengolahan bahan baku minyak kemiri yang masih berupa biji utuh,” ungkap Altje.

Sekolah Dorong Dukungan Sertifikasi dan Bahan Baku

Dalam pelaksanaan pengembangan produk Tefa dan OSOP, pihak sekolah masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait bahan baku, sertifikasi, serta penguatan akses pasar.

SMKN 3 Kupang berharap pendampingan Undana dapat membantu membuka akses terhadap bahan mentah dengan harga yang lebih terjangkau.

Selain itu, sekolah berharap proses sertifikasi BPOM dan halal untuk produk yang dihasilkan dapat dipercepat sehingga produk memiliki peluang lebih besar memasuki pasar modern.

Pihak sekolah juga mendorong adanya kebijakan dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat terkait keterlibatan guru dalam aktivitas Tefa dan OSOP.

Salah satu usulan yang disampaikan adalah agar aktivitas guru dalam pengembangan unit produksi sekolah dapat dikonversi sebagai bagian dari jam mengajar.

Melalui kolaborasi tersebut, penguatan OSOP diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan produksi siswa, tetapi juga membangun keterampilan kewirausahaan, memperluas akses pasar, dan membuka peluang kemandirian ekonomi bagi lulusan SMK.

Di sisi lain, pemetaan talenta siswa diharapkan menjadi pintu masuk untuk menemukan generasi muda NTT dengan kemampuan khusus yang dapat dipersiapkan melanjutkan pendidikan dan berprestasi pada tingkat yang lebih tinggi.

Program PKM Gubes Undana tersebut dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2026 dengan kombinasi pendampingan secara langsung dan daring. (*/rnc)