Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Pembagian tersebut mencakup anak-anak, orang dewasa, hingga lanjut usia (lansia).
Strategi ini dilakukan karena setiap kelompok usia memiliki tingkat kerentanan dan kebutuhan psikologis yang berbeda setelah mengalami bencana.
Pendekatan kepada anak-anak, misalnya, dirancang lebih interaktif melalui permainan dan aktivitas yang menyenangkan. Cara tersebut diharapkan dapat membantu anak merasa lebih nyaman sekaligus mengurangi ketegangan dan ketakutan yang muncul setelah gempa.
Sementara itu, pendampingan terhadap kelompok dewasa dan lansia menggunakan pendekatan yang lebih suportif dan emosional. Mahasiswa diarahkan untuk membangun komunikasi yang tenang, mendengarkan keluhan, serta memberikan dukungan sesuai kondisi psikologis penyintas.
Bukan Sekadar Bantuan Fisik
Pelatihan PFA menjadi bagian dari persiapan menyeluruh Tim KKN Tematik Tanggap Bencana Undana sebelum menjalankan misi kemanusiaan di Nagekeo.
Kehadiran mahasiswa di wilayah terdampak tidak hanya diarahkan pada bantuan teknis dan pemenuhan kebutuhan fisik. Aspek psikologis masyarakat juga menjadi perhatian penting dalam proses pemulihan pascabencana.
Pendekatan tersebut diperlukan karena dampak gempa tidak selalu terlihat secara kasatmata. Ketakutan, kecemasan, kehilangan rasa aman, hingga tekanan akibat kerusakan rumah dan lingkungan dapat memengaruhi kondisi mental penyintas dalam jangka waktu tertentu.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan