Dolar sempat melemah setelah harga minyak dunia turun lebih dari 2 persen dan pelaku pasar melakukan aksi ambil untung setelah greenback menguat selama empat hari berturut-turut.

Pergerakan harga minyak juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan prospek inflasi global dan kebijakan bank sentral.

Di tengah perkembangan geopolitik, harga minyak masih menjadi sumber risiko bagi inflasi. Reuters mencatat pergerakan minyak dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS menjadi faktor penting yang memengaruhi pasar keuangan global.

Iklan

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat

Meski DXY sempat terkoreksi, ekspektasi terhadap kebijakan moneter ketat The Fed masih menjadi perhatian pasar.

CME Group pada 25 September mencatat CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober sekitar 66,4 persen. Pasar menggunakan FedWatch sebagai indikator ekspektasi berbasis harga kontrak futures terhadap perubahan suku bunga The Fed.

Ekspektasi tersebut dapat memengaruhi pergerakan aset di pasar negara berkembang, termasuk rupiah, terutama melalui perubahan imbal hasil aset dolar AS dan arus modal global.

Sejumlah pejabat The Fed juga menyoroti risiko inflasi yang masih berada di atas target 2 persen. Perkembangan tersebut membuat pasar terus mencermati data ekonomi AS sebelum mengambil posisi terhadap arah kebijakan bank sentral AS.

Data Ekonomi AS Masih jadi Perhatian

Selain inflasi dan harga minyak, pasar juga akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat.