Tambolaka, RakyatNTT.ID — Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan dan penanggulangan tuberkulosis (TBC) dilakukan melalui program “Gerakan Desa Kori Bebas TB” di Desa Kori, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (5/9/2026).

Kegiatan tersebut digelar Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Sumba Barat Daya bersama dosen dan mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan Waikabubak, Poltekkes Kemenkes Kupang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang melibatkan DWP, Puskesmas Kori, pemerintah desa, serta masyarakat.

Iklan

Mengusung tema “Bersama Bergerak, Bersama Sehat, Wujudkan Desa Kori Bebas Tuberkulosis”, kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan TBC.

Ketua DWP Kabupaten Sumba Barat Daya, Grasiana Florida mengatakan, penanggulangan TBC membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, tidak hanya tenaga kesehatan.

Kolaborasi antara organisasi masyarakat, perguruan tinggi, fasilitas kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat dinilai penting untuk membangun kesadaran sekaligus mencegah stigma terhadap penderita TBC.

Gerakan Desa Kori Bebas TB dilaksanakan melalui tiga kegiatan utama, yakni pemberian makanan tambahan (PMT), edukasi kesehatan, dan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

PMT diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, terutama bagi penderita TBC yang sedang menjalani proses pengobatan.

Sementara itu, edukasi kesehatan diberikan untuk menjelaskan tanda dan gejala TBC, cara penularan, langkah pencegahan, pentingnya pemeriksaan sejak dini, serta kepatuhan menjalani pengobatan.

Dalam edukasi tersebut, masyarakat juga diingatkan agar tidak memberikan stigma atau diskriminasi kepada penderita TBC.

“Pasien yang sedang menjalani pengobatan harus tetap semangat dan disiplin minum obat sampai tuntas,” pesan Ketua DWP Kabupaten Sumba Barat Daya dalam kegiatan tersebut.

Adapun CKG dilakukan sebagai bagian dari upaya mengetahui kondisi kesehatan masyarakat sekaligus mendukung deteksi dini.

Dosen Program Studi D3 Keperawatan Waikabubak, Poltekkes Kemenkes Kupang, Petrus Belarminus, menjadi pemateri dalam sesi edukasi dengan topik “Pencegahan dan Penanggulangan TBC”.

Petrus menjelaskan sejumlah hal yang perlu diketahui masyarakat, mulai dari mengenali tanda dan gejala TBC, memahami proses penularan, melakukan pencegahan, hingga pentingnya pemeriksaan dan pengobatan secara teratur.

Selain pengobatan, dukungan keluarga dan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan penderita TBC.

Masyarakat diharapkan tidak menjauhi penderita, tetapi memberikan dukungan agar mereka dapat menjalani pengobatan hingga selesai.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Dosen dan mahasiswa Prodi D3 Keperawatan Waikabubak tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga terlibat dalam pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.

Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menerapkan ilmu keperawatan secara langsung, terutama dalam upaya promotif dan preventif di masyarakat.

Sementara bagi dosen, kegiatan ini menjadi sarana mengaplikasikan ilmu dan kompetensi keperawatan sekaligus berkontribusi terhadap penanganan persoalan kesehatan di tingkat desa.

Kolaborasi tersebut mempertemukan unsur perguruan tinggi, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat dalam satu upaya meningkatkan kesadaran mengenai TBC.

Melalui kegiatan ini, masyarakat Desa Kori didorong untuk berperan aktif dalam mencegah penularan TBC dan meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan lingkungan.

DWP Kabupaten Sumba Barat Daya juga menyampaikan apresiasi kepada tenaga kesehatan Puskesmas Kori, pemerintah desa, dosen, mahasiswa, dan seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Gerakan Desa Kori Bebas TB diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan edukasi, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, mendorong deteksi dini, mendukung kepatuhan pengobatan, serta mengurangi stigma terhadap penderita TBC.

“Ayo kenali TB, cegah penularannya, dan dukung kesembuhan.” (rnc29)