KEBIASAAN bangun kesiangan hingga melewati pukul 08.00 pagi ternyata perlu menjadi perhatian. Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Adam Prabata, mengungkap hasil penelitian yang menemukan adanya hubungan antara waktu bangun terlalu siang dengan peningkatan risiko kematian.

Temuan tersebut dibahas dr Adam melalui utas di akun Threads miliknya. Ia mengulas penelitian berjudul Association of sleep timing with all-cause and cardiovascular mortality: the Sleep Heart Health Study and the Osteoporotic Fractures in Men Study yang menganalisis kaitan waktu tidur dengan risiko kematian.

Menurut dr Adam, penelitian tersebut menunjukkan bahwa risiko kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan tidur terlalu malam. Waktu bangun yang terlalu siang juga ditemukan memiliki hubungan dengan peningkatan risiko kematian.

Iklan

“Hasil menarik lainnya adalah kebiasaan bangun telat (di atas jam 08:00) juga meningkatkan risiko kematian hingga 39 persen lebih tinggi,” kata dr Adam.

Tidur setelah Tengah Malam Juga Dikaitkan dengan Risiko Kematian

Selain kebiasaan bangun setelah pukul 08.00 pagi, penelitian yang dibahas dr Adam menemukan adanya hubungan antara waktu tidur setelah tengah malam dengan peningkatan risiko kematian dari berbagai penyebab.

Kebiasaan tidur larut malam memang cukup umum, terutama pada orang yang memiliki aktivitas hingga dini hari. Jika berlangsung terus-menerus, pola tersebut dapat menggeser waktu tidur dan bangun seseorang.

“Kebiasaan tidur setelah tengah malam (Jam 00:00) meningkatkan risiko kematian hingga 53 persen lebih tinggi,” ujar dr Adam.

Menurutnya, waktu tidur dan bangun memiliki kaitan erat dengan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Ritme sirkadian berperan dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk siklus tidur dan bangun.

Pergeseran jadwal tidur secara terus-menerus dapat berkaitan dengan sejumlah gangguan kesehatan kronis. Dalam jangka panjang, berbagai kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko komplikasi kesehatan.

“Kebiasaan tidur tengah malam ini berhubungan dengan beberapa penyakit kronis, sehingga meningkatkan risiko kematian,” katanya.

Bangun Siang bukan Berarti Langsung Menyebabkan Kematian

Meski temuan tersebut menarik perhatian, dr Adam menekankan pentingnya memahami hasil penelitian secara tepat.

Menurutnya, penelitian tersebut menunjukkan asosiasi atau hubungan, bukan membuktikan bahwa bangun setelah pukul 08.00 pagi secara langsung menyebabkan seseorang meninggal.

“Yang perlu diingat adalah penelitian ini sifatnya asosiasi, bukan penyebab langsung kematian. Namun hasilnya tetap perlu dicermati dan jadi pengingat untuk menjaga pola tidur lebih baik,” ujar dr Adam.

Artinya, seseorang yang terbiasa bangun lebih dari pukul 08.00 tidak serta-merta memiliki risiko meninggal hanya karena waktu bangunnya. Masih terdapat berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi kesehatan dan risiko kematian.

Pentingnya Menjaga Jadwal Tidur dan Bangun

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas dan keteraturan pola tidur juga penting untuk diperhatikan, bukan sekadar mengejar durasi tidur yang panjang.

Menjaga jadwal tidur dan bangun secara konsisten dapat membantu tubuh mempertahankan ritme sirkadian yang lebih teratur. Waktu tidur pun sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh serta aktivitas sehari-hari.

Karena itu, bagi orang yang terbiasa tidur sangat larut kemudian bangun kesiangan, perubahan pola secara bertahap dapat menjadi salah satu langkah untuk membangun rutinitas tidur yang lebih teratur.

Pada akhirnya, menjaga pola tidur bukan hanya tentang berapa lama seseorang tidur, tetapi juga kapan tubuh terbiasa tidur dan bangun secara konsisten. (*/rnc)