Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Aktivitas penerbangan di Bandara Gewayantana ditutup akibat terdampak erupsi Gunung Ile Lewotolok. Data penumpang terdampak yakni rute Kupang–Larantuka (KOE–LKA) sebanyak 52 penumpang dan rute Larantuka–Kupang (LKA–KOE) sebanyak 23 penumpang,” kata Puguh Lukito.
Penutupan bandara membuat sejumlah calon penumpang harus mencari alternatif perjalanan. Sebagian memilih menggunakan jalur darat menuju bandara lain yang tidak terdampak sebaran abu vulkanik.
Bandara Frans Seda di Maumere dan Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende menjadi sejumlah alternatif bagi penumpang yang membutuhkan akses penerbangan dari wilayah lain.
Otoritas Pantau Sebaran Abu Vulkanik
Otoritas bandara bersama AirNav Indonesia dan Kementerian Perhubungan terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan abu vulkanik di ruang udara sekitar kedua wilayah.
Pemantauan dilakukan secara berkala, termasuk melalui metode paper test, untuk mengetahui kondisi dan keberadaan material vulkanik yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan.
Pembukaan kembali operasional penerbangan akan dilakukan setelah kondisi dinyatakan aman dan ruang udara tidak lagi memiliki ancaman material vulkanik yang membahayakan penerbangan.
Karena itu, calon penumpang diminta tidak hanya mengandalkan jadwal penerbangan sebelumnya, tetapi secara berkala memeriksa informasi terbaru dari maskapai masing-masing.
Warga Diminta Waspadai Abu Vulkanik
Selain berdampak terhadap penerbangan, sebaran abu vulkanik juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama sistem pernapasan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan