Kupang, RakyatNTT.ID – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026), kembali bertambah.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton Panjaitan, mengatakan jumlah korban meninggal hingga Kamis (27/8/2026) pukul 16.00 WITA telah mencapai 111 orang.

Angka tersebut bertambah enam orang dibandingkan data sebelumnya. Penambahan korban masing-masing berasal dari Kabupaten Manggarai sebanyak empat orang dan Manggarai Timur dua orang.

Iklan

Manggarai jadi Daerah dengan Korban Terbanyak

Berdasarkan data BNPB hingga Kamis sore, korban meninggal akibat gempa Flores tersebar di tujuh kabupaten.

Berikut rinciannya:

  • Manggarai: 45 orang
  • Manggarai Timur: 38 orang
  • Nagekeo: 13 orang
  • Sikka: 6 orang
  • Ngada: 5 orang
  • Ende: 3 orang
  • Manggarai Barat: 1 orang

Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, disusul Manggarai Timur.

Gempa Susulan Capai 8.193 Kali

Selain bertambahnya korban, aktivitas kegempaan di Flores juga masih berlangsung.

Hingga Kamis (27/8/2026), tercatat sebanyak 8.193 kali gempa susulan setelah gempa utama M7,7 pada 15 Agustus 2026.

Dari ribuan gempa susulan tersebut, magnitudo terbesar mencapai M6,2, sedangkan yang terkecil tercatat M1,0.

Sementara itu, sebanyak 146 gempa susulan dirasakan oleh masyarakat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyampaikan bahwa gempa utama berkekuatan M7,7 tergolong besar. Karena itu, rangkaian gempa susulan masih berpotensi terjadi selama beberapa waktu.

Gempa susulan diperkirakan dapat berlangsung sekitar 3–4 minggu sejak gempa utama terjadi.

Kondisi tersebut membuat masyarakat di sejumlah wilayah terdampak masih perlu meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah maupun BMKG.

Jumlah Pengungsi Mulai Menurun

Di sisi lain, jumlah warga yang masih mengungsi menunjukkan penurunan.

BNPB mencatat total pengungsi hingga Kamis (27/8/2026) mencapai 176.621 orang. Jumlah tersebut berkurang sebanyak 2.416 orang dibandingkan data sebelumnya.

Penurunan jumlah pengungsi secara signifikan terjadi di Kabupaten Sikka.

Meski demikian, masih tingginya jumlah warga yang bertahan di lokasi pengungsian menunjukkan bahwa proses pemulihan pascagempa masih membutuhkan waktu dan dukungan berbagai pihak.

Pemerintah bersama BNPB dan instansi terkait terus melakukan penanganan terhadap masyarakat terdampak, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar serta pemulihan wilayah yang mengalami kerusakan akibat gempa. (rnc)