Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Untuk mencapai hal ini, para pemimpin gereja tidak lagi hanya fokus pada pelayanan di atas mimbar, tetapi juga turun langsung mendampingi jemaat dalam mengelola perkebunan dan peternakan mereka,” ujar Pnt. Yefta.
Ia menilai upaya tersebut membutuhkan sinergi antara jemaat, klasis, sinode, dan pemerintah agar program pemberdayaan dapat memberikan dampak berkelanjutan.
Selain itu, kearifan lokal masyarakat Amarasi, termasuk tradisi peternakan, dinilai perlu dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kearifan tersebut tidak hanya berpotensi menjadi penopang ekonomi masyarakat, tetapi juga dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.
BPAPE Sinode GMIT Fokus Perkuat Kapasitas Petani
Ketua BPAPE Sinode GMIT, Pdt. Yunus Kay Tulang, mengatakan gereja memiliki tanggung jawab untuk hadir dalam berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang dihadapi jemaat.
Menurutnya, pelayanan gereja tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga menyentuh kehidupan ekonomi masyarakat.
“Pelatihan pertanian ini diharapkan menjadi sarana peningkatan kapasitas jemaat agar mampu mengelola lahan secara berkelanjutan, meningkatkan hasil produksi, serta memperkuat ketahanan pangan keluarga,” tutur Pdt. Yunus.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan