“Ada videonya. Di video, GM ada dan karyawan juga ada. Ini hanya dibesar-besarkan kepada anggota supaya saya dianggap perusak. Padahal anggota sudah bosan dengan koar-koar seperti ini,” katanya.

“Kalau polisi panggil, saya siap bertanggungjawab. Kita lihat siapa yang benar nantinya. Menurut saya, satu dua orang yang koar-koar itu hanya gertak sambal yang tidak usah digubris. Jadi anggota tidak usah gubris. Saya Yohanes Sason Helan masih mempertaruhkan untuk kebaikan lembaga ini,” sambung Sason Helan.

Pengakuan Sason Helan turut dibenarkan oleh Ambrosius Pan selalu Ketua Pengawas. Menurutnya kata pengrusakan sebagaimana laporan GM Swasti Sari, tentu tidaklah tepat.

Iklan

“Proses membuka pintu oleh ahli kunci disaksikan pengurus, pengawas dan manajemen. Setelah itu, Pak Sason Helan menyerahkan ke GM, tapi beliau tidak mau terima,” terang Ambrosius Pan.

Senada dengan Sason Helan dan Ambrosius Pan, Wakil Ketua Pengurus, Dominikus Ancis juga heran dengan laporan polisi yang dibuat Imelda Anin. Dominikus heran lantaran ruangan yang sama justru dimanfaatkan oleh manajemen untuk menggelar konferensi pers. Padahal sebelumnya, Imelda Anin menolak menerima kunci usai proses penggantian kunci.

“Di awal mereka bilang kunci ada di Welem Geri. Kemudian kami ganti dengan kunci dengan kunci yang baru. Saat diserahkan ke ibu GM, dia tidak mau. Koq tiba-tiba sore mereka bisa masuk dan gunakan aula itu untuk konferensi pers. Jadi ada banyak pertanyaan di sini,” ungkap Dominikus Ancis.