Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Seba, RakyatNTT.ID – Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua terus mendorong peningkatan mutu pendidikan melalui pemanfaatan teknologi.
Wakil Bupati Sabu Raijua, Ir. Thobias Uly, M.Si., resmi membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi Pembelajaran bagi sekolah penerima BOSKIN Terbaik Tahun 2026 di Aula SMP Negeri 2 Sabu Barat, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum bagi satuan pendidikan untuk semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus menjadikan predikat BOSKIN Terbaik sebagai pijakan untuk memperkuat inovasi dan kualitas pembelajaran.
Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sabu Raijua, Kepala Bagian Prokopim, serta Yohanes Bili, S.Pd., Gr., M.Pd., selaku Kepala Seksi Kurikulum dan Pengendalian Mutu, Fasilitator Daerah sekaligus narasumber digitalisasi pembelajaran. Hadir pula para kepala satuan pendidikan peserta Bimtek.
BOSKIN Terbaik Bukan Sekadar Penghargaan
Dalam sambutannya, Thobias Uly memberikan apresiasi kepada satuan pendidikan yang berhasil menunjukkan kinerja terbaik hingga memperoleh penghargaan melalui program BOSKIN Terbaik Tahun 2026.
Menurutnya, predikat tersebut bukan sekadar penghargaan, melainkan bentuk kepercayaan sekaligus tanggung jawab untuk mempertahankan dan mengembangkan praktik baik di sekolah.
“BOSKIN Terbaik bukan sekadar sebuah predikat atau penghargaan. Ini merupakan bentuk apresiasi Pemerintah Pusat terhadap kinerja satuan pendidikan yang telah menunjukkan capaian dan praktik baik dalam penyelenggaraan pendidikan,” ujar Thobias.
Khusus Gugus 4 Kabupaten Sabu Raijua, terdapat empat satuan pendidikan yang menerima BOSKIN Terbaik Tahun 2026. Keempatnya yakni UPTD SMP Negeri 2 Sabu Barat, UPTD SDI Ledeana, PAUD Mentari Pagi, dan PAUD Maranatha Liebuka.
Thobias menegaskan, predikat terbaik harus menjadi awal bagi sekolah untuk terus berinovasi dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
“Predikat terbaik bukanlah tujuan akhir. Justru predikat tersebut harus menjadi titik awal untuk terus bergerak, berinovasi, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Digitalisasi Pembelajaran Harus Perkuat Peran Guru
Wakil Bupati mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah cara anak-anak memperoleh informasi, berkomunikasi, dan belajar. Karena itu, dunia pendidikan dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Namun, ia mengingatkan bahwa digitalisasi pembelajaran tidak sebatas penggunaan perangkat teknologi.
Menurutnya, pemanfaatan laptop, komputer, proyektor, telepon pintar, internet, aplikasi maupun video pembelajaran harus mampu memberikan nilai tambah dalam proses belajar mengajar.
“Digitalisasi pembelajaran adalah bagaimana teknologi kita manfaatkan sebagai sarana untuk memfasilitasi guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif, kreatif, menarik, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik,” jelasnya.
Thobias menekankan bahwa teknologi tidak boleh dipandang sebagai pengganti guru. Sebaliknya, teknologi harus digunakan untuk memperkuat peran guru dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik.
“Teknologi tidak menggantikan guru. Teknologi memperkuat peran guru,” katanya.
Para guru didorong memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan media pembelajaran interaktif, video pembelajaran, bahan ajar digital, asesmen, sumber belajar, hingga berbagai aktivitas pembelajaran kreatif lainnya.
Sekolah Tak Harus Bergantung pada Internet
Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, lanjut Thobias, tidak selalu harus bergantung pada jaringan internet.
Sekolah dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar digital secara offline, perangkat yang sudah tersedia, komputer, telepon pintar maupun media pembelajaran interaktif yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
“Yang terpenting adalah tepat guna, mudah diterapkan, dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik,” ujarnya.
Ia mengakui Kabupaten Sabu Raijua masih menghadapi sejumlah tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk keterbatasan akses, sarana prasarana dan jaringan internet.
Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi sekolah untuk berhenti melakukan inovasi.
“Keterbatasan bukan penghalang untuk berinovasi. Kita harus mampu mencari pendekatan yang sesuai dengan kondisi sekolah kita, memanfaatkan apa yang kita miliki, dan mengembangkan praktik pembelajaran yang relevan dengan karakteristik peserta didik dan lingkungan kita,” tegasnya.
Empat Sekolah Diharapkan Jadi Contoh
Wakil Bupati berharap empat satuan pendidikan penerima BOSKIN Terbaik di Gugus 4 dapat menjadi contoh sekaligus sumber inspirasi bagi sekolah lain di Kabupaten Sabu Raijua.
Ia juga meminta peserta Bimtek tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi menerapkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah masing-masing.
“Apa yang dipelajari hari ini harus dibawa pulang ke sekolah. Apa yang dibawa pulang harus dicoba. Apa yang sudah dicoba harus dievaluasi. Dan apa yang terbukti baik harus dikembangkan dan dibagikan kepada yang lain,” pesan Thobias.
Menurutnya, keberhasilan digitalisasi pembelajaran bukan ditentukan oleh banyaknya perangkat atau aplikasi yang digunakan. Ukuran utamanya adalah sejauh mana teknologi mampu memperkuat peran guru, menciptakan pembelajaran bermakna, dan meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua berharap Bimtek Digitalisasi Pembelajaran ini dapat mendorong lahirnya budaya inovasi dan kolaborasi di lingkungan sekolah.
Dengan demikian, penghargaan BOSKIN Terbaik Tahun 2026 tidak berhenti sebagai sebuah predikat, tetapi berkembang menjadi gerakan untuk memperkuat inovasi, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan mewujudkan pendidikan yang semakin adaptif terhadap perkembangan zaman. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan